Pemilu
legislatif 2014 telah selasai digelar.
Pesta rakyat 5 tahunan ini telah dengan megah dan meriah dihelat. Bagi
penulis istilah “pesta” tidak lebih karena teknis pelaksanaan di lapangan,
pemilu merupakan ajang pembalasan rakyat kepada calon-calon wakilnya 5 tahun
yang lalu karena telah mengingkari janji yang seharusnya dipegang teguh.
Banyaknya korupsi, pengemplangan dana proyek pembangunan, dan tugas-tugas
legislatif yang tidak terselesaikan menjadi kemuakan tersendiri bagi rakyat
yang paham dan sadar dirinya telah dikhianati oleh legislator di periode
sebelumnya. Bagaikan lingkaran syetan, sistem saling balas mengeruk keuntungan
pribadi antara rakyat melawan wakil rakyat akan terus terjadi. Pola politik
yang selalu mengarah pada politik bagi-bagi amplop menjadi kebiasaan buruk yang
nantinya akan menjadi budaya (budaya selalu tindakan positif)
Featured Posts
Kamis, 12 Juni 2014
Rabu, 13 November 2013
MAHA dari para SISWA
Terlenalah dalam nina
bobo kenyamanan zaman,, dan biarkan “kami” pelan-pelan melemahkan kalian.
Mahasiswa terdiri dari dua buah kata Maha dan Siswa, peletakan kata Maha
disini bukanlah hal yang bisa diangap sembarangan. Maha yang bisa diartikan
sebagai besar, tinggi, tempat mengadu, pemberi harapan, dan label paling puncak
untuk semua orang yang sedang terdidik. Sekarang ini pemberian kata Maha
menjadi hal yang perlu dipertanyakan, mahasiswa saat ini cenderung tidak
perduli dengan tanggung jawab dan peranannya. Seakan semua sudah lupa akan
beban menyandang kata MAHA.
Jumat, 25 Oktober 2013
REVITALISASI SPIRIT KOLEKTIVISME BANGSA
Dalam beberapa kesempatan, demokrasi yang kita nikmati memiliki 2 mata pisau. Satu sisi mengagungkan otoritas individu secara penuh, namun disisi lain selalu ada korban dari demokrasi. Demokrasi, kata Teuku Jacob tak ada artinya kalau rakyat tidak cerdas. Pembodohan berkedok demokrasi terjadi.
CINTA DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT
Para filosof mengidentitaskan cinta dengan keberadaan
manusia. Dengan cinta manusia dapat menghayati dirinya sebagai pengemban aktif
dunia aktivitasnya. Eksistensialis agamis yang beriman kepada Tuhan dan Filosof
yang berpengaruh Hiedegger, menyatukan keberadaan real dengan cinta. Mereka
menghadirkan cinta sebagi puncak kondisi luar biasa realitas alamiah dan
sebagai komplemen dari keberadaan manusiawi. Inilah perbedaan prinsip antara
manusia dan benda-benda, serta binatang.
Minggu, 06 Oktober 2013
Pergeseran Makna Nasionalime Indonesia
Ketika negara yang bernama Indonesia
akhirnya terwujud pada tanggal 17 Agustus 1945, dengan penghuninya yang
disebut bangsa Indonesia, persoalan ternyata belum selesai. Bangsa Indonesia
masih harus berjuang dalam perang kemerdekaan antara tahun 1945-1949, tatkala
penjajah menginginkan kembali jajahannya. Nasionalisme kita saat itu
betul-betul diuji di tengah gejolak politik dan politik divide et impera
Belanda. Setelah pengakuan kedaulatan tahun 1949, nasionalisme bangsa
masih terus diuji dengan munculnya gerakan separatis di berbagai wilayah tanah
air hingga akhirnya pada masa Demokrasi Terpimpin masalah nasionalisme
diambil alih oleh negara. Nasionalisme politik pun digeser kembali ke
nasionalisme politik sekaligus kultural. Dan, berakhir pula situasi ini dengan
terjadinya tragedi nasional 1 Oktober 1965 (GESTOK).
Sabtu, 31 Desember 2011
DETIK-DETIK TERAKHIR SANG PROKLAMATOR
DETIK-DETIK TERAKHIR SANG PROKLAMATOR
Sedari pagi, suasana
mencekam sudah terasa. Kabar yang berhembus mengatakan, mantan Presiden
Soekarno akan dibawa ke rumah sakit ini dari rumah tahanannya di Wisma Yaso
yang hanya berjarak lima kilometer.
Malam ini desas-desus
itu terbukti. Di dalam ruang perawatan yang sangat sederhana untuk ukuran
seorang mantan presiden, Soekarno tergolek lemah di pembaringan. Sudah beberapa
hari ini kesehatannya sangat mundur. Sepanjang hari, orang yang dulu pernah
sangat berkuasa ini terus memejamkan mata. Suhu tubuhnya sangat tinggi.
Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara semestinya kian menggerogoti kekuatan
tubuhnya.
Jumat, 21 Oktober 2011
Langganan:
Komentar (Atom)

