Dalam pengalaman saya, nasionalisme seringkali disalah mengertikan. Untuk itu, saya akan memulai tulisan saya dengan membahas dua jenis kesalahpahaman yang sering terjadi, menggunakan Indonesia sebagai contoh dari fenomena yang terjadi hampir sama di seluruh dunia dalam sebuah abad yang hampir berakhir saat ini.1 Yang pertama, nasionalisme merupakan sesuatu yang sudah sangat tua dan diwariskan tentu saja oleh kejayaan nenek moyang yang begitu agungg (gabsolutely splendid ancestors). Bagaimanapun nasionalisme merupakan sesuatu yang tumbuh secara alamiah dalam darah dan daging tiap-tiap dari kita. Namun faktanya, nasionalisme merupakan sesuatu yang masih anyar, dan sampai saat ini baru berusia dua abad. Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat, yang diproklamirkan di Philadelphia pada 1776, tidak menyebut sedikitpun tentang gnenek moyangg, termasuk tidak juga menyebut tentang orang Amerika. Deklarasi Kemerdekaan oleh Soekarno dan Hatta pada 17 Agustus 1945, juga tampak mirip. Namun kebalikannya, mereka yang mengusung gkejayaan nenek moyang yang begitu agungg biasanya hanya memunculkan omong kosong belaka, dan seringnya sebentuk omong kosong yang
1. Naskah ini dipresentasikan dalam sebuah kuliah umum di
Jakarta, 4 Maret 1999, sesaat sesudah saya diperbolehkan lagi memasuki
Indonesia pertama kali semenjak 26 tahun yang lalu.
sangat berbahaya.
Contoh dari sejarah setempat yang paling bagus adalah Pangeran
Diponegoro (1787-1855), yang pada tahun 1950 diangkat sebagai Pahlawan
Nasional, selayaknya Diponegoro telah memimpin perjuangan kemerdekaan Indonesia
keluar dari jerat kolonialisme Belanda. Namun, jika kita perhatikan lagi apa
yang Diponegoro tulis dalam memoarnya, kata yang ia gunakan untuk menggambarkan
tujuan politiknya adalah ia berniat untuk gmenaklukkang
(Subjugate) .ya, gmenaklukang- Jawa. Konsep mengenai gIndonesiag masih
sangatlah asing bagi dirinya .begitu juga dengan gagasan mengenai gkebebasang. Memang, sejauh yang kita ketahui neologisme asing dari
Yunani-Romawi ini masih sangatlah anyar: baru mulai jadi terkenal semenjak 80
tahun yang lalu.Organisasi pertama yang menggunakan kata ini adalah Partai
Komunis Indonesia .pada tahun 1920 (ketika ibu saya masih seorang gadis
berumur 15 tahun).
Kesalahpahaman kedua adalah tentang gbangsag
(nation) dan negara (state), jika dianggap tidak mirip, paling tidak hubungan
mereka layaknya suami dan istri yang berbahagia. Namun dalam kenyataan
sejarah yang terjadi justru berlawanan. Mungkin 85% dari gerakan nasionalis
memulai perjuangannya sebagai sebuah gerakan anti-negara (anti-state) melawan
struktur negara-dinasti yang kolonialistik dan absolutistik. Negara dan bangsa
baru gmenikahg akhir-akhir ini, dan
pernikahan
3
tersebut seringnya jauh dari bahagia. Pemahaman yang umumnya
muncul muncul adalah bahwa negara .atau apa yang oleh saya dan beberapa kawan
sering kami sebut sebagai Buto2 (Ogre)- jauh lebih tua daripada bangsa itu
sendiri.
Dari Batavia menjadi Indonesia
Indonesia sekali lagi, menyajikan sebuah contoh yang bagus.
Genealogi perihal negara di Indonesia dimulai di Batavia pada awal abad ke-17.
Runutan perkembangannya terlihat sangatlah jelas, meskipun perluasan wilayahnya
semakin lama semakin lebar. Luas wilayah di Indonesia saat ini .dengan
pengecualian Timor-Timur- merupakan wilayah jajahan Belanda di Hindia Timur
saat mereka merampungkan penaklukan terakhir mereka di Aceh, Bali Selatan dan
Irian (Papua sekarang .Penj) di awal abad ini. Selanjutnya, kita harus selalu
ingat bahwa di akhir masa kejayaan Belanda di Indonesia, sekitar tahun 1930-an,
90 persen .saya ulangi, 90 persen- dari pegawai pemerintahannya merupakan pribumi. Tentu saja ada beberapa pergantian -tekanan dan penambahan-
selama masa revolusi, namun, sebagian besar personil dari negara republik muda
ini merupakan kelanjutan dari negara kolonial yang ada sebelumnya. Parlemen
pertama sesudah tahun 1950 juga penuh dengan para mantan kolaborator
kolonialisme, dan tentara republik yang
2. Mahluk raksasa menyeramkan yang muncul dalam cerita
pewayangan .Penj.
baru ini juga terdiri dari banyak prajurit dan pegawai
negara yang melawan keberadaan Republik selama masa Revolusi.3
Sejauh pemahaman mengenai wilayah nasional yang ada,
terdapat sebuah ironi yang pertama kali disebutkan salah satunya oleh Jenderal
Sayidiman. Karena rezim Suharto membuat Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 menjadi
sesuatu yang sakral .walaupun pada kenyataannya, Undang-Undang itu dibuat
dengan ketergesaan yang sangat tinggi di bulan Agustus 1945 dalam situasi yang
darurat dan penuh kebingungan- penentuan batas wilayah Indonesia tidak dapat
dirubah (dengan ketakutan akan mengurangi kesakralannya). Ini berarti bahwa
pencaplokan Timor-Timur, yang berada di luar batas yang ditentukan tadi, sedari
awal sangatlah tidak konstitusional. Untungnya, Sayidiman merupakan seorang
Jenderal, jadi tak terlalu berbahaya baginya untuk mengucapkan itu.
Singkatnya: apa yang baru saja saya tuturkan merupakan
sebuah peringatan.
3. Baik Jenderal Nasution, perancang kemiliteran pasca masa
Revolusi, dan Jenderal Suharto memulai karir militer mereka di KNIL (het
Koninklijke Nederlands-Indische Leger / Tentara Kerajaan Hindia-Belanda
.Penj.), tentara perang bentukan Belanda, musuh besar dari gerakan nasionalis.
Suharto lalu hengkang bergabung dengan PETA (ky.do b.ei giyugun .Penj.) tentara
pembantu bentukan otoritas Jepang yang beranggotakan masyarakat pribumi pada tahun 1943.
5
Waspadalah kepada siapapun yang membuat negara menjadi
sesuatu yang sakral dan senantiasa dipuja, dan waspadalah kepada siapa saja
yang selalu membanggakan gkejayaan nenek moyang yang begitu
agungg. Milikmu akan segera dicurinya.
Lalu apa sebenarnya nasionalisme itu? Jika kita mempelajari
tentang sejarah dunia, maka dapat dikatakan bahwa nasionalisme bukanlah sesuatu
yang diwariskan dari masa lampau, namun lebih kepada sebuah proyek bersama (common project) untuk kini dan di masa depan. Dan
proyek ini lebih membutuhkan pengorbanan pribadi, bukannya malah
mengorbankan orang lain. Inilah mengapa tidak pernah terjadi pada para pejuang
kemerdekaan bahwa seolah-olah mereka memiliki hak untuk membunuh sesama bangsa
Indonesia; sebaliknya mereka merasa harus memiliki keberanian jika nanti mereka
akan dipenjara, dianiaya, dan diasingkan demi kebebasan dan kebahagiaan di masa
depan para sesamanya.
Perihal Pemuda dan Pertaruhan Mereka
Nasionalisme muncul di dalam suatu wilayah tertentu ketika
para penduduknya mulai merasa mereka memiliki sebuah tujuan bersama, juga masa
depan bersama. Atau seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, mereka diikat
oleh rasa persaudaraan yang dalam. Biasanya,
perasaan itu muncul secara cepat dan begitu saja pada sebuah
generasi, sebagai suatu penanda bagi kebaruanya. Kita dapat melihat betapa
nasionalisme dapat begitu lekat dengan harapan untuk masa depan, jika kita
perhatikan nama-nama dari organisasi awal yang bergabung dengan gerakan
kemerdekaan pada awal abad-20: Jong Java, Indonesia Muda, Jong Islamietenbond
(Liga Muslim Muda), Jong Minahasa, dan sebagainya. Tak ada satupun organisasi
yang menamai diri mereka Jawa Tua, Bali Abadi, atau sejenisnya. Orientasi
mereka adalah menuju masa depan dan basis sosialnya adalah para pemuda (Bahkan
hingga saat ini, kekuatan politik istimewa yang dimiliki mahasiswa terletak
pada posisi sosial mereka sebagai simbol masa depan bangsa). Lebih jauh lagi,
para pemuda pada masa itu menggunakan identitas kedaerahan mereka bukan atas
nama nasionalisme lokal yang separatis, namun sebagai penanda akan komitmen
kedaerahan mereka terhadap kebersamaan sesama koloni dan proyek bersama untuk
pembebasan. Mereka tak terlalu lagi mempedulikan bahwa dulu raja Aceh pernah menjajah wilayah pesisir Minangkabau, bahwa raja orang Bugis pernah
memperbudak orang-orang di perbukitan Toraja, bahwa bangsawan-bangsawan
Jawa pernah mencoba untuk menaklukan dataran tinggi Sunda, atau maharaja Bali
yang pernah dengan sukses menundukan Pulau Sasak.
7
Jika kita dapat kembali ke tahun 1945-1949 dan bercengkrama
dengan para pejuang kemerdekaan pada masa itu, bisa dipastikan bahwa mereka
akan sulit mempercayai bahwa lima puluh tahun kemudian fungsi dari angkatan
bersenjata Republik ini tidak lagi untuk melindungi negara dari musuh
eksternal, namun justru malah menindas rakyat sendiri, yang dengan ini berarti
juga mengadopsi tradisi militer pada masa kolonial. Namun inilah yang selalu
sering terjadi. Mungkin orang-orang pada masa lalu itu tak begitu waspada pada
konsekuensi yang mungkin terjadi pada perkawinan antara negara dan bangsa.
Jika nasionalisme merupakan sebuah proyek bersama untuk kini
dan masa depan, maka ia tak akan pernah mengenal garis final. Nasionalisme
memang harus diperjuangkan dalam setiap generasi. Di dalam pandangan orang
tuanya, dan juga negara, seorang bayi uang lahir di Madura,
katakanlah, sudah menjadi seorang warga
Indonesia, namun si bayi belum tentu juga berpikir demikian. Proses untuk si
Bayi menjadikan dirinya seorang warga Indonesia, dengan jiwa seorang Indonesia,
dengan komitmen untuk Indonesia, dan dengan budaya Indonesia, merupakan
sebuah jalan yang panjang, tanpa ada jaminan pasti akan adanya keberhasilan.
Dengan kata lain, kita dapat juga melihat bahwa kelanjutan
dari sebuah bangsa pada dasarnya tidak pernah memiliki sebuah jawaban pasti,
dan juga layaknya sebuah pertaruhan.
Pertaruhannya apakah gagasan mengenai masa depan Indonesiag akan cukup mengakar pada jiwa semua warga
negara, yang jika perlu, tiap calon warga Indonesia yang baru selalu seiap
menyingkirkan ambisi personal dan mendedikasikan kesetiaannya pada
gagasan besar tersebut. Taruhan ini dapat dimenangkan dalam jangka waktu yang
panjang, hanya jika bangsa Indonesia cukup terbuka pikirannya dan berhati besar
untuk menerima keberagaman dan kompleksitas dari masyarakatnya .dimana dalam kasus
Indonesia terdapat 200 juta jiwa. Dunia modern saat ini telah memberikan kita
bukti yang cukup mengenai sebuah bangsa yang terpecah-pecah karena banyak dari
warga negaranya yang berhati kerdil dan berpikiran sempit .belum termasuk
keinginan yang berlebih untuk berkuasa atas sesamanya.
9
Warisan Bersama atau Proyek Bersama
Ketika saya masih kanak-kanak, ibu membelikan sebuah buku
bekas berjudul History of English Literature (Sejarah Kesusastraan Inggris).
Saya mengingat dengan jelas bahwa bagian pertama dari buku ini ditujukan bagi
cerita Cuchulain and the Brown Cow yang ditulis pada abad ke-12 di Irlandia
Kuno .yaitu, sebelum bahasa Inggris pun ada. Lalu apa yang membuat ini aneh?
Karena edisi buku yang ibu saya belikan adalah terbitan tahun 1900-an, saat
Irlandia masih dijajah oleh Inggris, yang berusaha dengan susah payah untuk mengintegrasikan penduduk lokal, seperti halnya cara rezim Soeharto mencoba
untuk mengintegrasikan penduduk Timor-Timur. Beberapa tahun kemudian, saya
menemukan sebuah edisi baru dari buku tersebut, diterbitkan sekitan
1930-an, dan saya kagum mendapati bagian pertama dari buku tersebut telah
hilang, karena, pada waktu itu Republik Irlandia (dimana saya menjadi warga
negaranya) telah mendapatkan kemerdekaannya .kurang lebih 22 tahun sebelum
Indonesia. Dari cerita sederhana ini, kita dapat melihat betapa mudahnya
membuat dan membinasakan gnenek moyang yang agung tergantung pada
situasi politik. Sejujurnya saat ini tak ada seorang orang Inggris pun yang
merindukan The Brown Cow. Di lain sisi, kebanyakan orang Irlandia
berbicara dengan bahasa Inggris daripada bahasa Irlandia sendiri, jadi banyak
dari mereka hanya dapat membaca cerita The Brown Cow tadi dalam terjemahan
bahasa Inggris. Dan hubungan antara Irlandia
yang merdeka dan Inggris sekarang ini jauh lebih baik
daripada seratus atau lima puluh tahun yang lalu, ketika puluhan ribu petani
Irlandia dipaksa oleh kelaparan akibat penjajahan untuk kabur ke Amerika. Ada
sebuah perlajaran menarik di sini untuk Indonesia dan hubungannya dengan
Timor-Timur.
Saya memberikan kilasan singkat ini karena saya masih
melihat banyak sekali warga Indonesia masih cenderung berpikir Indonesia
sebagai sebuah warisan semata, bukan sebagai sebuah
tantangan atau sebuah proyek bersama. Dimana seseorang memiliki warisan,
lalu seseorang itu memiliki pewaris, dan, seringnya, terjadi perselisihan pahit
diantara mereka sebagai siapa yang lebih berhak untuk mewarisinya. Seseorang
yang masih memandang bahwa gperasang dari
Indonesia merupakan sebuah gwarisang yang
harus dijaga dengan segala cara dapat berujung pada perlakuan kekerasan kepada
warga yang hidup dalam ruang geografis yang abstrak tersebut.
Mari kita ambil dua contoh paling jelas yang sedang banyak
diberitakan: Aceh dan Irian.4 Sepanjang sejarah pergerakan
4. Yang lebih terkenal sebagai provinsi Muslim Aceh,
terletak di ujung barat-laut dari Sumatra, menandai batas paling barat dari
Indonesia. Irian, bagian barat dari Papua Nugini, menandai batas paling timur
dari Indonesia. (Saat ini nama Irian Jaya telah diganti menjadi Papua. (Nama
Papua digunakan resmi semenjak masa kepresidenan Gus Dur pada 2002. Sebelumnya
nama Irian Barat digunakan
11
kemerdekaan saat masa penjajahan, tak ada satu pun orang
Aceh yang saya ketahui pernah mengungkapkan ide mengenai Aceh Merdeka. Selama masa Revolusi, Aceh adalah satu-satunya provinsi
dimana Belanda tidak lagi berani untuk kembali ke sana. Namun, bukannya
mengambil kesempatan itu untuk memerdekakan diri, orang Aceh memberikan, dengan
dasar sukarela .saya hendak menekankan kata sukarela di
sini- kontribusi yang sangat besar kepada perkara revolusi tersebut baik dalam
hal tenaga manusia maupun sumber daya ekonomi dan keuangan. Mereka
melakukan hal ini dikarenakan, di masa-masa itu, Jogjakarta5 sama sekali tidak
memiliki niatan ataupun tujuan untuk bertindak seperti Diponegoro, yaitu
mencoba menaklukan Aceh.
Memang benar bahwa, di bahwa pimpinan Daud Beureueh6,
beberapa orang Aceh memutuskan untuk memberontak kepada Jakarta pada awal
1950-an, karena mereka telah dikecewakan oleh beberapa kebijakan yang
diterapkan oleh pusat; namun pemberontakan ini untuk menandai rezim Soekarno
pada 1969, dan Irian Jaya untuk menandai masa rezim Soeharto pada 1973,
bertepatan ketika Soeharto meresmikan tambang tembaga dan emas Freeport-Penj).
5. Ketika rezim kolonial Belanda kembali menguasai
Batavia/Jakarta pada Januari 1946, ibu kota Indonesia pada masa revolusi
dipindahkan ke kota kerajaan tua Jogjakarta yang terletak di Jawa Tengah.
6. Daud Beureueh, seorang ulama modernis terkenal pada tahun
1930-an, dulunya seorang gubernur militer Aceh semasa Revolusi, dan juga tokoh
kunci dalam pergerakan lokal demi kemerdekaan Indonesia.
pertama-tama ditujukan untuk merubah kebijakan ini, bukan
untuk memisahkan diri dari Indonesia. Pada tahun 1970-an, Aceh begitu damai dan
makmur di bawah pemerintahan sispil, dan tak ada seorang pun yang percaya
bahwa, pada akhir dekade berikutnya, provinsi tersebut akan menjadi sebuah
Daerah Operasi Militer (DOM) yang penuh kengerian. Pada saat itu, Hasan di
Tiro7 tidak terlalu diangap penting oleh siapa saja, dikarenakan dia telah
cukup lama meninggalkan Indonesia dan koneksinya kepada CIA (Central
Intelligence Agency) di masa lalu. Bahwa Aceh
Merdeka menjadi begitu populer pada akhir 1980-an dikarenakan semakin banyaknya
orang Aceh yang kehilangan harapan dan kepercayaan bahwa mereka sedang berbagi
dalam sebuah proyek bersama dengan manusia Indonesia lainnya. Kerakusan
yang begitu hebat dari Jakarta, dan kaki tangan serta anak buah mereka di
pemerintahan provinsi, begitu juga penggantian pemimpin sipil putra daerah
dengan mereka yang dari militer, yang kebanyakan berasal dari Jawa, sepertinya hendak
berujar pada para penduduk Aceh: Kita sama sekali
tidak membutuhkanmu; yang kita butuhkan adalah sumber daya alam milikmu.
Alangkah bagusnya jika Aceh dikosongkan dari orang Aceh sendirig. Inilah
muasal dari rangkaian kekejian yang media massa seringkali luput untuk
diliput.
7. Bergelar pendiri Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dia memiliki
keuntungan sebagai keturunan langsung dari salah satu pahlawan utama dari
perjuangan yang begitu pahit nan panjang sejak 1783-1908 melawan serangan
militer kerajaan Belanda.
13
Akar dari Separatisme
Cerita Irian dalam banyak hal sangat bisa dibandingkan.
Kemunculan OPM (Organisasi Papua Merdeka) bukan sebelum Orde Baru .dimana mulai
sekarang akan saya sebut sebagai Orde Keropos- berkuasa, namun sesudahnya. Dan
bahasa yang mereka gunakan masih bahasa Indonesia. Namun berbagai macam ancaman
dan manipulasi yang diarsiteki oleh Ali Murtopo8 dan antek-
8. Jendral Ali Murtopo merupakan kepala intelejen politik
Soeharto pada masa awal kekuasaan Orde Baru yang terkenal sangat Machiavellian.
Aparatur negara inilah yang pada tahun 1963 gmenetapkanh
PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat) di Irian agar seolah-olah memperlihatkan
suara yang bulat untuk berintegrasi dengan Indonesia. Selama masa-masa
perundingan akhir untuk pemindahan kedaulatan di akhir 1949, pihak
Belanda menolak untuk menyerahkan Irian kepada negara Indonesia yang baru
Merdeka. Pada 1962, dengan militer Indonesia dan usaha diplomasi Amerika,
memberikan tekanan kepada Den Haag (dimana pusat kekuasaan kerajaan Belanda waktu
itu berada .Penj) untuk sementara menempatkan wilayah tersebut dibawah naungan
PBB guna menunda finalisasi pengemukaan pendapat penduduk lokal.
anteknya, memberi sebuah gambaran seolah-olah semua orang
Irian merupakan pelayan yang patuh kepada Orde Keropos tersebut. Bagi orang
Irian sendiri, hal ini jelas-jelas menunjukan bahwa di mata orang-orang di
pusat, yang paling penting itu adalah Iriannya, bukan manusia yang hidup di
sana. Dalam segala macam keberagaman yang dimiliki, mereka justru dicap sebagai
populasi primitif yang diberi sebutan mengacu pada nama provinsi mereka. Sekali
lagi, yang hanya akan dipahami dari tindakan Jakarta ini adalah perkataan: Sayang ya, ada orang Irian yang tinggal Iriang. Rakyat di Irian tak
pernah secara serius diajak bergabung pada sebuah proyek bersama, jadi
wajar saja kalau mereka mulai merasa bahwa mereka sedang dijajah. (Sambil lalu,
saya mencatat bahwa masih saja ada warga Indonesia yang berpikir bahwa
penjajahan hanya dapat dilakukan oleh orang Barat kepada orang non-Barat. Ini
sangatlah berbahaya dan secara historis merupakan sebuah ilusi ketidakacuhan.)
Dari perilaku kolonial Orde Keropos tersebut, munculah
karakteristik yang begitu keji. Institut Bantuan Hukum cabang setempat
mencatat, sebagai contoh, dibawah kepemimpinan biadab Jenderal Abinowo, ada
sebuah kasus dimana sebuah desa disangka menampung geriliyawan OPM lalu
setengah penduduk yang tinggal disana dibakar hidup-hidup bersama dengan rumah
mereka oleh pihak militer, sedangkan setengah penduduk yang lain
15
dipaksa oleh oknum militer yang sama untuk memakan daging
para keluarga dan tetangga mereka yang telah gosong terpanggang. Kekejian
terencana seperti ini sama sekali tak dapat dibayangkan selama masa revolusi,
dan bahkan pada era PRRI dan DI.9 Mereka jelas-jelas menunjukan bahwa, pada
bagian angkatan bersenjata di bawah Orde Keropos, orang Irian bukan saja tidak
termasuk dalam sesama bangsa Indonesia, namun juga sekedar barang milik dari si Buto.
Kita dapat menyimpulkan dengan demikian bahwa, Gerakan Aceh
Merdeka dan OPM muncul kepermukaan sebagai reaksi atas sebuah mentalitas,
kebijakan dan pelaksanaan kebijakan dari Orde Keropos, dengan sikap dasar: Sayang ya, ada orang Aceh yang tinggal Aceh dan orang Irian yang
tinggal di Iriang, dan pandangan terhadap warga yang terkucilkan ini
bukan sebagai manusia Indonesia, namun lebih sebagai objek, barang
milik, pembantu, dan halangan bagi si Buto. Situasi saat ini sangatlah serius
dan hanya
9. PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia)
merupakan pemerintahan pemberontakan dibentuk pada awal 1958 dengan dukungan
kuat dari CIA. Kelompok ini unjuk kekuatan di sebagian Sumatera dan Sulawesi,
bertujuan untuk menurunkan sekaligus menggantikan pemerintah yang ada di
Jakarta, namun dikalahkan pada tahun 1960. DI (Darul Islam) merupakan kelompok
ekstrimis Islam yang mempersenjatai diri mereka, berasal dari Jawa Tengah dan
Jawa Barat pada 1949, dan selanjutnya menyebar ke sebagian Sumatera dan
Sulawesi. Gerakan ini belum sempat ditaklukan hingga tahun 1964.
dapat disembuhkan dengan melakukan perubahan radikal pada
pola pikir para pemimpin politik di Jakarta. Sangatlah penting bahwa Aceh dan
Irian diakui keasliannya dan diberi otonomi penuh sehingga mereka, sekali lagi,
dapat merasakan diri sebagai tuan di rumah sendiri. Proses ini akan memerlukan
hadirnya pemilihan daerah yang bebas dan reguler, serta pemerintah provinsi dan
kabupaten yang dipilih secara langsung .bukan ditunjuk lagi oleh menteri dalam
negeri. Otonomi ini juga akan memerlukan adanya Dewan Perwakilalan Rakyat
Daerah dimana gfraksi militerg -mereka yang tidak
melalui pemilihan umum, namun ditunjuk, dan kebanyakan berasal dari bagian
barat Indonesia- tidak termasuk di dalamnya. Saya tidak ragu lagi bahwa, jika
perubahan ini diwujudkan dalam waktu dekat dan dengan benar, maka
gerakan separatis akan kehilangan gaungnya.
Saya juga yakin bahwa nanti akan ada rintangan kedepan:
sengketa di daerah, korupsi, dan bahkan kekerasan, sebagai bagian dari
sisa-sisa tiga puluh tiga tahun kekejaman dan korupnya kekuasaan Orde Keropos
tadi. Namun kondisi tersebut hanyalah sementara, dan dalam berbagai hal,
kondisi-kondisi tadi masih belum ada apa-apanya dibandingkan dengan eksploitasi
dan kekejian saat era Orde Keropos. Dengan cara ini, warga Aceh dan Irian
sekali lagi akan diundang kembali secara lebih serius dalam sebuah proyek
bersama dan akan memunculkan perasaan
17
persaudaraan yang mendalam dimana daripadanya mereka tak
akan pernah dikucilkan lagi.
Untuk sebuah Indonesia yang Federal
Kita juga harus menjadi lebih realistik dan menyadari bahwa
otonomi yang asli, bukan gotonomi palsug yang ditunjukan saat
ini dengan status Daerah Istimewa, juga berarti federalisasi Indonesia. Hal ini
sepenuhnya normal. Bahkan hampir semua negara berwilayah luas di dunia
mempunyai institusi federal dalam berbagai macam jenis: Kanada, Brasil, Amerika
Serikat, India, Nigeria, Jerman, Rusia, dan lain sebagainya. Cina merupakan
salah satu pengecualiannya, dan saya agak ragu jika ada banyak warga Indonesia
yang merasa sistem seperti di Cina merupakan salah satu yang ingin mereka
jadikan model. Saya yakin bahwa ada orang-orang di Jakarta yang akan berteriak,
dengan gaya yang sudah dapat ditebak, bahwa Indonesia yang federal merupakan
proyek peninggalan kolonial Belanda .tanpa menghiraukan fakta bahwa Belanda
telah tidak mempunyai peranan penting lagi di Indonesia selama hampir setengah
abad. Yang lain akan mencibir bahwa federalisme merupakan sebuah rencana yang
dikompori oleh pihak asing untuk memecah-mecah Negara Kesatuan.
Orang asing mana yang masih memiliki minat dalam urusan pemecah-belahan ini di
masa sesudah Perang Dingin usai? Saya pikir tak ada lagi. Kejadian di
Yugoslavia telah cukup
membuat semua negara-negara di dunia paham untuk mencegah
tragedi yang serupa berulang. Sedangkan orang lain yang masih saja tertambat
pada mentalitas Orde Keropos, akan menentang dengan mengatakan bahwa
federalisme bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945. Namun Undang-Undang
itu pun buatan anak manusia, bukan buatan Tuhan, dan untuk dapat bertahan di
keadaan yang serba berubah, Undang-Undang harus senantiasa disesuaikan. Jika
para Founding Fathers Amerika dapat dibangkitkan kembali saat ini, mereka akan
begitu terkejut mengetahui bahwa naskah yang telah mereka susun bersama dua
abad yang lalu telah begitu berubah, baik dalam isi maupun semangatnya.
Undang-Undang Dasar 1945 sudah begitu usang. Lebih tepatnya, sudah usang
semenjak tahun 1950, dan seharusnya tak akan pernah digunakan lagi jika pada
tahun 1959 tidak muncul aliansi oportunis antara militer yang haus kekuasaan
dan Presiden Soekarno yang mulai bertindak otoriter. Undang-Undang tersebut
sangat memerlukan, jika bukan pembongkaran total, paling tidak sebuah perbaikan
yang menyeluruh.
Menghadapi Masa Lalu
Jika gproyek bersama dihidupkan kembali dan menjadi semakin nyata, maka yang tak kalah
penting untuk dilakukan adalah mengakhiri berbagai macam praktek kekerasan dan
kekejian yang sudah begitu mengakar. Jika kita membaca memoar
19
para aktivis yang ditangkap oleh rezim kolonial, jarang kita
temukan adanya penganiayaan dan penyiksaan, kemaluan yang dibiarkan menempel
pada alat sengat listrik, dan semacamnya. Namun, selama tiga puluh dua tahun
yang lalu, hal ini menjadi aktivitas normal dari polisi dan personil militer pada tingkat bawah. Hari-hari ini,
sangatlah normal untuk memukul seseorang yang ditangkap bahkan sebelum dia
diintrogasi; begitu juga saat gmengeksekusi tahanan, dengan dalih mereka
gmencoba untuk melarikan diri.
Beberapa hal ini juga terjadi antara tahun 1950-an dan
1960-an, namun saat itu belum bisa disebut rutin.
Kejadian tersebut telah menjadi rutinitas juga berarti bahwa hal tersebut telah
dipergunakan untuk mempertahankan kekuasaan yang seharusnya berdasarkan
atas hukum, namun pada kenyataannya justru mengingkari hukum tersebut dengan
adanya impunitas (kekebalan hukum .penj) total. Situasi ini tidak hanya merusak
moral dari para penegak hukum, namun juga cenderung merusak mental para
korbannya juga. Banyak dari tahanan yang melihat aparat yang menahan mereka
menjadi para penyiksa yang keji, bahkan juga seorang tukang jagal, cenderung
akan mengikuti contoh tersebut. Inilah sumber utama dari menjamurnya, dalam
lima belas tahun terakhir, kelompok yang sering mengutamakan kekerasan yang
disebut sebagai preman, yang kerapkali malah
menjadi tangan kiri dari si
Buto. Kita semua paham mengenai sejauh mana proses premanisasi dan gangsterisasi
telah terjadi dalam wilayah politik di Indonesia. Partai politik
mempunyai premannya sendiri, begitu juga para pengusaha dan instansi
pemerintah. Dan media massa memainkan perannya sendiri, dengan sedikit banyak mengagung-agungkan para preman kondang seperti Yorries Raweyai,
Sumargono, Anton Medan, Yapto, Hercules dan yang lain-lain.
Namun sebenarnya proses kekejaman ini telah dimulai jauh
sebelum tahun 1980-an. Selama masa gerakan kemerdekaan, cukup sering terjadi
pertikaian yang sengit antara berbagai kelompok yang ada waktu itu. Namun saya
tidak yakin bahwa kondisi tersebut akan membuat mereka melakukan penganiayaan
atau pembunuhan kepada kelompok lain yang berlawanan dengan mereka. Lawan
adalah lawan, bukan binatang. Masih ada unsur saling
menghormati dalam konflik diantara mereka. Sesudah itu, timbul
kemerosotan yang perlahan namun pasti. Kekejaman yang begitu parah dilakukan
oleh kedua belah pihak dalam perkara Madiun 1948,10
10. Semenjak akhir 1945 hingga Januari 1948, Kabinet
Republik Indonesia didominasi oleh kaum sosialis dan komunis, yang dengan
demikian harus mengemban tugas dalam situasi semakin kurang baiknya hkesepakatanh dengan rezim kolonial Belanda. Dalam bulan tersebut,
cabinet yang baru, dipimpin oleh wakil Presiden Hatta, yang tidak
mengikutsertakan pihak kiri, mengampu kekuasaan. Tegangan politik antara
kaum Konservatif dan kiri semakin cepat meningkat dan memperburuk
21
dalam situasi nasional yang kondisinya serba darurat dan
ketegangan sosial dan ekonomi yang begitu tinggi. Orang mulai melihat para
lawan politiknya, bukan sebagai sesama bangsa Indonesia, namun sebagai pion
dari kekuatan asing -NICA11, CIA, NKVD (Narodnyy Komissariat Vnutrennikh
Del/Komisariat Rakyat untuk Urusan Dalam Negeri, organisasi polisi rahasia pada
masa Uni Soviet .Penj), dan lain sebagainya. Namun, dua tahun setelah peristiwa
Madiun, partai yang kalah, pihak Komunis, kembali sebagai anggota parlemen,
yang dengan kata lain, sebagai sesama bangsa Indonesia sekali lagi.
Perubahan yang cukup besar muncul pada tahun 1965-1966. Dan
selama peristiwah65-66h tidak dihadapi, secara
jujur dan terbuka, oleh manusia Indonesia, proses pengeroposan dan kekejaman
akan terus terjadi. Di sini, saya tidak berniat untuk membahas peristiwa h65-66h secara mendetail. Saya hanya ingin menggaris bawahi dua poin
penting:
atmosfir mendung Perang Dingin. Pada September 1948 kondisi
ini berujung pada konflik berdarah yang dimulai di kota Madiun, dan selanjutnya
memukul habis pihak kiri.
11. Ketika angkatan bersenjata milik Sekutu, di bawah Louis
Mountbatten, mengambil alih kekuasaan Jepang di Indonesia pada September 1945,
Belanda, yang baru saja dibebaskan dari kekuasaan Nazi, tidak memiliki kekuatan
militer yang memadahi. Den Haag diwalikan untuk lebih dari satu tahun oleh
Netherland Indies Civil Administration (NICA) di bawah lindungan militer
Inggris.
(i) `Pada 4 Oktober 1965, Soeharto dan kelompoknya menerima
hasil autopsi resmi yang dikeluarkan oleh pihak militer dan ahli forensik sipil
pada tubuh dari para Jenderal yang terbunuh pada 1 Oktober. Jelas disebutkan
dalam laporan tersebut bahwa para Jenderal ditembak hingga mati, dan mayat
mereka rusak karena jatuh ke sumur yang sangat dalam di Lubang Buaya. Namun
pada 6 Oktober, media massa, yang sepenuhnya dikontrol oleh kekuasaan Soeharto
melancarkan pemberitaan bahwa yang terjadi kepada para Jenderal adalah mata
mereka dicongkel keluar dan kemaluan mereka dikebiri dengan sadis oleh para
anggota Gerwani.12 Kampanye penuh kebohongan ini dilakukan dengan berdarah
dingin oleh mereka yang sadar betul apa yang sedang mereka lakukan. Jika kita
hendak membaca gambaran fiksional akan betapa luar biasanya kesadisan ini,
tidak ada yang jauh lebih bagus penggambarannya selain novel karya Putu Wijaya
berjudul Nyali. Yang paling menegerikan dari Kampanye propaganda ini adalah
munculnya atmosfir mencekam diseluruh Indonesia yang nantinya mengakibatkan,
selama beberapa bulan berikutnya, lebih dari setengah juta dari mereka yang
seharusnya ikut serta dalam proyek bersama dibunuh dengan cara yang paling
mengerikan,
12. Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) merupakan organisasi
wanita sayap kiri yang perlahan-lahan menjadi bagian dari infrastruktur Partai
Komunis.
23
sama sekali tidak mengindahkan hukum yang berlaku, dan tidak
satu orang pun yang membunuh dihadapkan pada pengadilan. Secara kasar dapat
kita katakan demikian: bahwa dasar sebenarnya dari apa yang disebut sebagai
Orde Baru merupakan gunungan tulang-belulang.
(ii) Akibatnya terasa hingga saat ini. Kita kesampingkan
dulu para inisiator dari kekejian ini .dengan kata lain, Soeharto dan lingkaran
dalamnya- kita dapat bertanya pada yang sekarang: Pernahkah Abdulrahman
Wahid,13 terkenal dengan pidatonya yang mendukung Hak Asasi Manusia dan
toleransi beragama, meminta maaf untuk NU untuk sepuluh ribu orang yang
terbunuh oleh Ansor pada 1965-1966? Saya percaya jawabannya ialah tidak.
Pernahkah Megawati,14
13. NU . Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi para ulama
tradisionalis berdiri sejak pertengahan 1920-an. Abdulrahman Wahid, adalah
pemimpin mereka dalam jangka waktu yang cukup lama, merupakan cucu darui pendirinya.
Ansor merupakan angkatan muda dari NU yang cukup ditakuti, terutama kuat di
daerah pedesaan Jawa Timur.
14. Megawati, anak perempuan dari Presiden pertama Indonesia
Soekarno, merupakan Ketua Umum PDI-Perjuangan. Pada awal 1970-an, Soeharto memaksa
seluruh partai non-islam untuk bergabung kedalam Partai Demokrasi Indonesia
yang terbelah dari dalam dan korup. Unsur pembentuknya kebanyakan dari PNI
(Partai Nasionalis Indonesia) .yang secara berdarah dipisahkan dari anggota
sayap kirinya yang begitu banyak- dimana, diketahui sebagai yang paling dekat
dengan pandangan politik dari bapaknya.
yang menganggap dirinya sebagai korban dari rezim Soeharto,
pernah meminta pengampunan untuk PNI-PDI akan puluhan ribu .termasuk anggota
sayap kiri dari PNI sendiri- dibunuh oleh komplotan pemuda PNI, terutama di
Bali? Sekali lagi, saya pikir jawabannya adalah tidak. Pernahkan tokoh Katolik
terkemuka pada masa Orde Baru seperti Benny Murdani, Frans Seda, Liem Bian-kie
dan Harry Tjan Silalahi15 pernah meminta maaf atas keterlibatan pemuda Katolik
dalam aksi pembantaian? Lagi-lagi tidak. Kaum Protestan? Para mantan PSI?16
Kaum Intelektual? Para Akademisi? Hampir tak ada satu kata pun. Saya ingat
hanya seorang kolega muda yang begitu saya rindukan Soe Hok-Gie memiliki keberanian
itu, sejak tahun 1967, untuk menyuarakan fakta yang terjadi. Dari sudut pandang
ini, kita dapat melihat bahwa hampir semua oposisi
saat ini tidaklah, secara mendasar, merupakan oposisi sesungguhnya bagi Orde
Keropos, dan Indonesia yang akan mereka
15. Jenderal Benny Murdani, tzar intelejen untuk waktu yang
lama, dan orang yang paling bertanggungjawab atas peran kejam Indonesia di
Timor Timur. Frans Seda, menteri Perkebunan dalam kabinet Soekarno yang
terakhir, yang juga merupakan ahli keuangan pada awal rezim Soeharto. Liem
Bian-kie dan Harry Tjan Silalahi, dua operator terkemuka pada jaringan
intelejen Operasi Khusus (Opsus-penj) Ali Murtopo, memainkan peranan tidak
langsung pada matanza (pembunuhan/pembantian-Penj) oleh kaum anti komunis pada
1965-1966.
16. PSI .Partai Sosialis Indonesia. Partai kecil terdiri
dari para intelektual yang berorientasi ke Barat, yang pada pertenganhan
1950-an menyebut dirinya sosialis hanya pada namanya. Sangat berpengaruh dalam
tubuh militer dan lingkaran kekuasaan yang lain, dijadikan partai terlarang
oleh Soekarno pada awal 1960-an.
25
bangun kembali, akibatnya, akan tetap menyimpan gunungan
tulang-belulang terkubur di dalam gudang bawah tanahnya. Semuanya terus saja
menghindari fakta yang terjadi pada masa lalu politik mereka, meminta maaf,
berjanji pada diri mereka sendiri tak akan pernah membiarkan segala hal seperti
tahun 1965-66 terjadi lagi, dan menyambut kembali kedalam sebuah proyek bersama
sekali lagi mereka yang masih tertinggal dan keturunan dari para korban periode
tersebut. Dan, di sekolah-sekolah, anak-anak masih saja disuapi dengan wacana
sejarah yang semu mengenai trauma bangsa atau tragedi
bangsa .Hentikan sekarang juga!
Pendangkalan Kekejian
Kengerian akan 1965-66, ketika jutaan manusia Indonesia
dianggap oleh manusia Indonesia yang lain sebagai binatang atau setan, yang
karenanya dapat dan harus diperlakukan dengan kejam dan tidak memperdulikan
segala hukum yang berlaku, mempunyai banyak konsekuensi berat pada saat ini.
Sebuah kebiasaan telah terbangun di kalangan militer dimana jika menyangkut
persoalan hkeamananh, setiap aspek kesusilaan
dari manusia dapat disingkirkan dan mereka dibekali dengan impunitas yang
mutlak .disediakan oleh gatasanh yang memberi mereka perintah. Konsekuensi
politiknya menjadi semakin jelas melihat
pada peristiwa aneksasi 17
Timor-Timur sesudah 1975. Sudah menjadi rahasia umum bahwa antara tahun 1977
dan 1980, sekitar sepertiga dari populasi daerah bekas koloni Portugis mati
dengan cara yang tidak wajar .ditembak senjata api, dibakar dengan
napalm,18 dibiarkan mati kelaparan di kamp pengungsian,
atau korban dari penyakit menular yang menyebar cepat akibat kondisi pemukiman
yang tidak manusiawi. Penyiksaan menjadi standar prosedur kerja (SOP .Standard
Operating Procedure), belum lagi berbagai macam pemerkosaan dan
pembunuhan. Jika kita menggunakan presentase diatas untuk pulau Jawa, maka ini
berarti kematian tak wajar paling tidak 25 juta jiwa dalam waktu tiga tahun.
Menakutkan? Jelas! Kejahatan tingkat tinggi? Apakah masih ada yang
meragukannya?
Kenapa itu semua harus terjadi? Seharusnya tak ada lagi ada
orang yang ditipu mengenai retorika Selamat datang
kawanku, ke dalam haribaan Ibu Pertiwi atau warga Timor Timur
17. Merupakan tindakan pencaplokan wilayah yang lebih kecil
oleh sebuah entitas yang jauh lebih besar darinya (negara, korporasi). Dimana
tindakan ini sifatnya unilateral/ dilakukan secara sepihak oleh entitas yang
lebih besar untuk memperoleh pengakuan internasional. -Penj
18. Napalm (naphthenic and palmitic acids) adalah semacam
bahan kimia yang biasanya digunakan untuk membuat bom untuk membumihanguskan
sebuah teritori tertentu. Karena tujuan utama dari bom napalm adalah untuk
membakar maka biasa digunakan militer untuk perang-perang di hutan rimba
seperti di Vietnam .Penj.
27
dengan sukarela bergabung dalam proyek bersama ini. Operasi
di Timor Timur, yang sebagian besar (faktanya -penj) ditutup-tutupi dari bangsa
Indonesia sendiri, merupakan proyek penaklukan dari si
Buto, yang masih satu garis turunan langsung sejak van Heutsz,
Diponegoro, dan pendahulunya yang jauh lebih brutal: Sultan Agung.19 Sudah
tidak jarang lagi kita dengar dari seorang pejabat tinggi mengatakan tentang
betapa tidak tahu terima kasihnya orang Timor Timur
untuk segala hal baik yang Jakarta telah berikan untuk mereka. Saya
yakin benar bahwa tidak ada satupun dari mereka sadar, bahwa yang dilakukan
sama saja dengan mendengungkan lagi sikap gnenek
moyang penjajah Belanda yang agungh dahulu kala, yang saat itu juga mengeluh
tentang betapa gtidak tahu terima kasihnyah para
pribumi (Indonesia) atas segala kebaikan
19. Jenderal Joannes van Heutsz, salah satu komandan Belanda
yang paling sukses dalam Perang Aceh, menjadi Gubernur-Jenderal dari 1904-1909,
dan menjaga keutuhan wilayah Hindia Belanda hingga akhir. Sultan Agung
(r.1613-1645) hampir sukses meletakkan seluruh pulau Jawa dalam kuasanya,
dengan menggunakan cara yang paling zalim sekalipun. Namun akhirnya ia kalah
telak oleh United East India Company (EIC .Kongsi dagang Inggris di India dan
wilayah sekitarnya -Penj)
dari kolonial Belanda atas rust en orde dan juga opbow
(pembangunan!!)20 yang telah diberikan untuk mereka. (Untuk merasakan betapa
tidak adilnya pernyataan ini, kita boleh membayangkan apakah mungkin akan ada
pejabat tinggi yang mengeluh di depan publik perihal tak tahu terima kasihnya
orang Jawa atau Sunda terhadap segala kebaikan yang telah dibawakan Orde Baru
untuk mereka.) Di timor Timur juga, pikiran orang-orang dipenuhi dengan kesan
yang ditangkap dari sikap si Buto: gAh sayang ya,
ada orang Timor Timur yang tinggal di Timor Timur.
Dari akhir 1970-an hingga akhir 1980-an, Timor Timur
merupakan sebuah wilayah yang tertutup tidak hanya untuk orang asing, tapi juga
untuk kebanyakan orang Indonesia sendiri .yang harus memiliki izin khusus untuk
bisa pergi ke sana. Lalu menjadi wilayah yang semua boleh
masuk. Kopassus21 menjadi garda depan dan pemberi contoh yang pertama dalam
segala macam kekejaman tersebut. Pemerkosaan, penyiksaan dan pembunuhan menjadi
hal yang normal. Dan para Ninja juga muncul
pertama
20. Dua slogan yang tak habis-habisnya didengungkan pada
masa kolonial adalah rust en orde (kedamaian dan tatanan) dan opbouw
(pembangunan). Secara mirip, rezim Soeharto hanya mengindonesiakan slogan ini
menjadi Orde Baru dan pembangunan.
21. Kopassus (Komando Pasukan Khusus), yang sebagian mengacu
model dari Green Berets (Sebutan untuk Pasukan Khusus Amerika Serikat .Penj),
merupakan Pasukan elit Indonesia, yang juga sangat terkenal akan kekejamannya.
29
kali di tempat ini .para preman yang memakai penutup wajah
yang bekerja sebagai tangan kiri dari si Buto. Dari waktu ke waktu, budaya penaklukan menyebar dan mengakar ke seluruh bagian Indonesia.
Kita dapat melihatnya dalam pembunuhan massal yang diarsiteki oleh Soeharto,
Murdani, dan Kopassus dalam aksi Petrus pada 1983.22 Dari sana,aksi tersebut menyebar ke Aceh, Lampung, Irian, dan yang lainnya.
Ketika sebuah wilayah yang damai menjadi bermasalah, bukan atas kehendak mereka
sendiri, namun karena mereka dibuat jadi masalah oleh para
agen dari si Buto. Mari kita coba pikirkan lebih dalam: Jika kita coba reka
jumlah keseluruhan dari orang yang meninggal dengan tidak wajar dalam era Orde
Baru .dan kita kesampingkan dulu mereka yang terluka, secara psikologis
terguncang, yang jadi yatim piatu, serta yang lainnya,
22. Pada 1983, ribuan penjahat
kelas teri dibunuh (kadang dengan cara penyiksaan) oleh personil Kopassus yang
memakai pakaian preman. Pasukan pembawa kematian ini, lebih terkenal dengan
nama petrus (penembak misterius), akhirnya diakui dengan bangga oleh
Soeharto sebagai hasil perintahnya. Kepala operasi mereka adalah seorang
Katolik Jenderal Murdani.
maka dapat kita buat daftar sebagai berikut: 1965-66,
setidaknya 500.000, Timor Timur 200.000; Petrus 7.000; Aceh, mungkin 3.000;
Irian, mungkin 7.000. Mendekati seperempat juta orang, yang disangka sebagai
bagian dari proyek bersama semua orang. Jika anda benar-benar memikirkan hal
ini, maka anda akan paham kenapa saya hanya dapat menggelengkan kepala, tidak
percaya dengan tuntutan para goposisih dimana
Soeharto dan keluarganya di panggil pengadilan atas penilapan begitu banyak
uang .mungkin mereka pikir itu sebagai uang gkitah? .dan sebagian besar
menutup mata untuk segala kejahatan yang seribu kali jauh lebih buruk:
Pembunuhan secara sistematik dan terencana pada skala yang tak pernah dapat
dibandingkan lagi dalam sejarah nusantara.
Hak Asasi Manusia
Indonesia
Dan sekarang kita menghadapi sebuah fakta yang ironis.
Presiden Habibie yang telah dicerca dan disalahkan sebagai penerus dan pion
dari Soeharto, Namun justru, disamping memberi kebebasan kepada pers, dan
melepaskan sebagian besar tahanan politik, dia memiliki keberanian untuk
memutuskan akhir dari proyek penaklukan dari
mantan atasannya di Timor Timur. Disamping itu, pemimpin oposisi yang lain telah cukup menunjukan bahwa, dalam mentalitasnya,
mereka masih hidup dalam kegelapan moral dari era Orde
Keropos. Hal yang paling memalukan adalah anak perempuan
dari Soekarno .yang telah dikucilkan, dihina, dan secara tidak langsung
dipenjara seumur hidup oleh Soeharto, dan nota bene, tak pernah menyatakan
bahwa Timor Timur merupakan bagian dari Indonesia .telah secara publik membela
proyek gpenaklukanh oleh Soeharto. Suatu hal yang
sangat disayangkan.Yang dirasakan adalah, mengacu pada ucapanya, yang
berbicara bukan lagi Megawati, namun Miniwati. Di bawah sulur-sulur yang rimbun
dari pohon beringin hanya tanaman kerdil nan buluk yang dapat tumbuh.23
Lalu apa yang harus dilakukan? Kita lihat sekarang bahwa
banyak organisasi dan institusi, baik yang lokal maupun asing, maupun yang
campuran keduanya, yang mendedikasikan kerjanya untuk gHak Asasi
Manusiah di Indonesia. Memang sudah seharusnya demikian adanya. Namun yang tak
kita saksikan adalah mereka yang bekerja untuk Hak Asasi, bukan sebagai
manusia pada umumnya, namun
Partai Golkar yang bisa dibilang merupakan partai negara
pada waktu rezim Soeharto, karena memenangkan tiap
pemilu yang mempertahankan
kekuasaan Soeharto, menggunakan pohon beringin keramat
sebagai logonya, mengacu pada kepercayaan orang Jawa akan kekuatan magis yang
dimiliki sebagai tempat tinggal bagi roh-roh pelindung. Namun seperti yang oleh
para aktivis anti-rezim ketahui, sulur-sulur yang begitu rimbun menggantung
membuat segala macam tetumbuhan sangat susah tumbuh dibawahnya .selain lumut
(politik), parasit (politik), jamur (politik) dan lain sebagainya.
sebagai Manusia Indonesia. Apa yang saya maksudkan di sini
adalah hak bagi orang-orang Indonesia, yang ditakdirkan untuk lahir di tanah
Indonesia sewaktu menjadi Republik, untuk berpartisipasi secara sukarela,
semangat, setara, dan tanpa ketakutan ikut serta dalam proyek bersama
Nasionalisme Indonesia. Dengan kata lain, hak mereka untuk tidak diperlakukan
sebagai binatang, setan, pelayan, atau hak milik bagi manusia Indonesia yang
lainnya. Hak Asasi Manusia Inonesia ini hanya dapat
diperjuangkan dan disadari oleh manusia Indonesia sendiri.
Jika perjuangan ini tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh
dan dalam skala yang luas, maka masa depan dari usaha bersama ini sangatlah
gelap. Jika ada yang memulai dengan Sayang ya, ada
orang Aceh yang tinggal di Acehh, maka dengan mudah akan beralih pada, Sayang
ya, ada orang Katolik di Flores, Sayang ya, ada warga Tionghoa yang
tinggal di Semarang, Sayang ya, ada orang Dayak yang tinggal
di Kalimantan. Secara logis ini akan merambat juga ke: Sayang ya, ada orang
Jawa yang tinggal di Jawa. Dan yang paling sulit dibayangkan: Sayang ya, ada
orang Jakarta yang tinggal di Jakartah. Karena
di Jakarta itu sendiri, dalam masyarakat kelas menengah dan atas yang banyak
berpengaruh, mentalitas Sayang ini sangatlah mengakar dalam.
Dalam media massa dan di Internet dapat kita baca mengenai
kesepakatan
akan adanya reformasi dan sewaktu-waktu bahkan revolusi. Hal ini bisa diterima sepanjang istilah ini dimaknai secara
sungguh-sungguh dan tidak ada udang dibalik batu. Namun sebagai tambahan, saya
percaya (dan berharap) akan kebangkitan kembali dari proyek bersama yang
telah dicetuskan hampir seratus tahun yang lalu. Usaha yang hebat seperti ini
cenderung menghasilkan manusia-manusia yang hebat pula. Dr. Soetomo, Natsir,
Tan Malaka, Sjahrir, Yap Thiam Hing, Kartini, Haji Misbach, Sukarno, Sjauw Giok
Tjan, Chairil Anwar, Suwarsih Djojopoespito, Sudirman, Roem, Pramoedya Ananta
Toer, Hatta, Mas Marco, Hasjim Ansjari, Sudisman, Armijn Pane. Haji Dahlan,24
dan masih banyak lagi yang datang pada zaman tersebut. Betapa sedih jika saya
bandingkan dengan masa sekarang. Sudah hampir lebih dari sepuluh tahun, saya
biasa bertanya kepada pemuda dari Indonesia yang mengunjungi Cornell, atau yang
datang belajar ke sini, dengan pertanyaan sederhana: Siapa di Indonesia yang
begitu anda kagumi dan hormati sekarang? Reaksi yang lazim terjadi adalah,
bingung dengan pertanyaan tersebut, lalu mengaruk-garuk kepala dan akhirnya,
baru secara lugas menjawabc. Iwan Fals.25
Bukankah ini mengerikan? Saya tak bermaksud bahwa setiap orang harus atau dapat
menjadi manusia hebat
24. Daftar ini termasuk komunis, sosialis, Muslim, kelas
menengah nasionalis sekuler, Tionghoa, perempuan, penyair dan penulis novel,
pengacara Hak Asasi Manusia, dan pekerja Sosial.
25. Iwan Fals merupakan nama panggung dari penyanyi
folk-rock terkenal di kalangan pemuda dan pelajar. Tema-tema yang dibawakannya
seputar kritik-kritik sosial.
tadi. Namun sebaliknya, saya pikir setiap orang dapat
memutuskan sendiri untuk menolak menjadi kerdil.
Hidup Rasa Malu!
Bangkitnya kembali kehidupan nasional yang sebenarnya akan
membutuhkan perombakan total sistem pemerintahan, terutama ke arah otonomi
daerah .bukan etnik-. Hal ini membutuhkan pertumbuhan budaya politik yang sehat
dan berlapang dada, dan penghapusan politik yang penuh sadisme dan premanisme.
Yang juga dibutuhkan adalah rasa sayang, yang sebenarnya, untuk institusi
nasional. Saya berikan satu contoh, yang paling dekat dengan kehendak saya
sebagai seorang guru. Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa kualitas universitas
di Indonesia sudah begitu menurun, paling tidak semenjak kebijakan Normalisasi
Kehidupan Kampus oleh Daud Yusuf yang menggelikan pada akhir 1970. Kita tahu
seperti apa lingkaran setannya: Profesor yang terlalu sibuk dengan kerja yang
memberikan tambahan penghasilan, proyek-proyek pemerintah, konsultansi-konsultansi,
dan sedikit kemungkinan untuk mengajar mahasiswanya secara serius; mahasiswa
yang tumbuh bersama dengan budaya mencontek; perpustakaan yang menyedihkan;
birokrasi kampus yang korup dan otoriter .dan lain sebagainya. Salah satu
alasan yang jarang sekali disebutkan untuk segala macam kemunduran ini adalah
kebiasaan antipati untuk segala macam yang berbau dalam
negeri dari kaum kelas atas maupun sebagian kelas
menengahnya, yang lebih memilih untuk mengirimkan anak mereka ke
sekolah-sekolah internasional di Indonesia, atau universitas mahal di luar
negeri. Kebiasaan ini membuktikan bahwa, di mata orang-orang ini,
universitas-universitas di Indonesia diperuntukan untuk warga kelas dua, yang tak memiliki rekening bank yang banyak dan koneksi
yang luas. Seperti berujar, siapa yang akan peduli jika mereka hancur? Saya
seringkali berharap dapat melarang seluruh akses studi ke luar negeri, kecuali
untuk tingkatan MA dan PhD, untuk semua warga Indonesia dalam masa penyembuhan untuk sepuluh tahun. Jika para kaum kelas atas
harus mengirimkan nak-anaknya ke universitas-universitas di Indonesia, meungkin
kondisi universitas-universitas itu akan membaik. Namun, tentu saja, ini
hanyalah mimpi di siang bolong.
Di sebuah buku yang baru saja diterbitkan, setengah bercanda
saya menyertakan slogan Hidup Rasa Malu!. Mengapa? Karena saya
pikir bahwa tak ada seorangpun yang mengaku menjadi nasionalis yang utuh jika
tidak merasa malu jika negaranya atau pemerintahnya sendiri melakukan
tindak kejahatan, apalagi jika kejahatan itu dilakukan kepada warganya sendiri.
Meskipun secara individu ia tidak melakukan suatu kejahatan, namun sebagai
bagian dari proyek bersama, secara moralitas seharusnya ia merasa terlibat pada
segala sesuatu yang mengikutsertakan nama dari proyek bersama itu. Selama
Perang
Vietnam berkecamuk, sebagian besar orang yang menentangnya
memulai aksi mereka dari sebuah perasaan malu sebagai seorang warga negara
Amerika bahwa pemerintah mereka bertanggung
jawab untuk pembunuhan keji tiga juta jiwa di Indochina, termasuk wanita dan
anak-anak yang tak terhitung jumlahnya. Mereka merasa malu bahwa presiden mereka Johnson dan Nixon mengatakan berbagai macam kebohongan kepada
dunia dan sesama warga Amerika sendiri. Mereka merasa malu bahwa sejarah
negara mereka dinodai dengan kekejaman, kebohongan dan
pengkhianatan. Jadi mereka melakukan protes, bukan hanya untuk membela Hak
Asasi Manusia yang universal, namun juga sebagai warga Amerika yang juga
mencintai proyek bersama warga Amerika. Rasa malu secara politik seperti ini
sangatlah bagus dan selalu diperlukan.
Jika rasa malu ini dapat ditumbuhkan secara sehat di
Indonesia, warga Indonesia akan memiliki keberanian untuk menghadapi ketakutan
dari zaman Orde Keropos, bukan sebagai sesuatu yang telah dilakukan oleh orang
lain (jadi aku tak perlu peduli-Penj), namun sebagai beban bersama. Ini berarti
akhir dari mentalitas yang telah dipupuk selama ini: (pura-pura) Tidak
Mendengar Segala yang Jahat, (pura-pura) Tidak Melihat Segala yang Busuk, Tidak
Berbicara Buruk mengenai Semuanya (See No Evil, Hear No Evil, Speak No Evil).26
26. Ungkapan ini mengacu pada sikap yang dilakukan
oleh tiga kera bijak yang terdapat patungnya di kuil Nikko
Toshogo di Jepang sejak abad ke-17. Adapun ketiga kera itu digambarkan satu
menutup matanya, satu menutup telinganya dan yang terakhir menutup mulutnya.
Banyak intepretasi mengenai ajaran yang dibawa dari China dan menjadi salah
satu ajaran aliran Zen di Jepang ini. Ada yang menganggap bahwa ini sebagai
sembol penarikan diri dari urusan duniawi oleh para biksu yang menganut ajaran
Budha, namun juga dapat diartikan sebagai sikap tidak peduli dengan situasi
yang ada di sekitar .Penj.
Terbitan Anjing Galak lainnya:
Merebut Kembali
Yang Commons
-Naomi Klein
Kita perlu memiliki
kepercayaan kepada
kemampuan masyarakat untuk
mengatur diri mereka sendiri,
untuk membuat keputusan yang
paling baik untuk mereka. Kita
perlu menunjukan
kerendah-hatian dimana
sekarang begitu banyak arogansi
dan paternalisme.
Untuk percaya pada kebhinekaan manusia dan demokrasi lokal
bukan sekedar omong kosong. Segala macam cara akan digunakan
oleh McGoverment untuk melawannya. Ekonomi neoliberal akan menjadi bias pada
setiap hal yang berujung pada sentralisasi, konsolidasi, homogenisasi. Ini
merupakan sebuah perang yang ditujukan kepada kebhinekaan. Melawan hal-hal
tersebut, kita memerlukan sebuah perubahan yang radikal,
dengan terus berpegang pada satu dunia dengan banyak dunia di dalamnya, yang
juga berarti gsatu kata tidak dan banyak kata ya (the
one no and the many yesses).
Perjoeangan Kita
-Soetan Sjahrir
Dalam perjuangan membebaskan diri dari penjajahan, negara,
yang dalam hal ini adalah negara Republik Indonesia, dipakai sebagai alat bukan
tujuan. Soetan Sjahrir menginginkan hal itu dipertajam agar perjuangan untuk
mengatasi kolonialisme
tidak menggunakan cara-cara fasis. Revolusi yang
dilaksanakan bukan revolusi fasis tetapi revolusi kerakyatan. Dengan demikian
semangat revolusi kerakyatan tidak sama dengan fasis sebab tujuan utamanya
adalah kebebasan dan kemerdekaan demi kesejahteraan rakyat.
Benedict R. OfG. Anderson
Dapat diunduh di www.anjinggalak.tk
39

Tidak ada komentar:
Posting Komentar