Social Icons

galery

Kamis, 12 Juni 2014

Pesta Semu Pemilu


Pemilu legislatif 2014 telah selasai digelar.  Pesta rakyat 5 tahunan ini telah dengan megah dan meriah dihelat. Bagi penulis istilah “pesta” tidak lebih karena teknis pelaksanaan di lapangan, pemilu merupakan ajang pembalasan rakyat kepada calon-calon wakilnya 5 tahun yang lalu karena telah mengingkari janji yang seharusnya dipegang teguh. Banyaknya korupsi, pengemplangan dana proyek pembangunan, dan tugas-tugas legislatif yang tidak terselesaikan menjadi kemuakan tersendiri bagi rakyat yang paham dan sadar dirinya telah dikhianati oleh legislator di periode sebelumnya. Bagaikan lingkaran syetan, sistem saling balas mengeruk keuntungan pribadi antara rakyat melawan wakil rakyat akan terus terjadi. Pola politik yang selalu mengarah pada politik bagi-bagi amplop menjadi kebiasaan buruk yang nantinya akan menjadi budaya (budaya selalu tindakan positif)


Pemilu 2014 menjadi titik tolak meningkatnya transaksi pembelian hak suara rakyat. Amplop-amplop sebaran dari para calon anggota legislatif dari berbagai tingkat ramai membanjiri dompet-dompet rakyat. Bak menjadi ajang kegiatan yang ditunggu-tunggu rakyat dengan antusias menanti rumahnya di ketuk oleh tim sukses para calon legislatif ini. Rakyat mulai tidak memperdulikan fungsi, tugas dan tujuan dari hajatan 5 tahunan ini. Bagi kalangan berpendidikan yang terbilang tinggi dan mempunyai kesadaran akan politik tinggi, menganalisa kemampuan calon yang diajukan oleh bendera-bendera berlogo masih mungkin dilakukan. Tetapi bagi masyarakat awam dengan pendidikan yang tergolong rendah, sumber informasi yang minim, dan kehausan akan pengetahuan yang rendah, pemilu hanyalah ajang meraup untung demi kelangsung hidup seminggu kedepan dengan tanpa usaha keras.
Merosotnya pemahaman politik disertai dengan pola tingkah laku negatif masyarakat dalam mengekspresikan dirinya pada ajang pemilu sebenarnya tidak bisa dilepaskan juga dari pola sistem yang diterapkan oleh para calon yang mengajukan diri maju dalam pemilu selain itu juga keinstanan partai politik menerapkan strategi pemenangan para kadernya. Partai politik hanya terfokus pada bagaimana caranya meraup suara maksimal dalam pemilu, tanpa memikirkan kelayakan kader yang diajukan layak atau tidak mewakili rakyat konstituennya. Partai politik kebanyakan saat ini lebih melihat dari segi popularitas, kemampuan elektabilitas kader, dan sisi finansial kader, sisi inilah yang akhirnya juga melemahkan pola kaderisasi yang diberlakukan partai politik kepada para kadernya.


1 komentar:

  1. sayangnya pemilu di indonesia lebih pada formalitas dari konsekuensi negara demokratis... :/

    BalasHapus