Para filosof mengidentitaskan cinta dengan keberadaan
manusia. Dengan cinta manusia dapat menghayati dirinya sebagai pengemban aktif
dunia aktivitasnya. Eksistensialis agamis yang beriman kepada Tuhan dan Filosof
yang berpengaruh Hiedegger, menyatukan keberadaan real dengan cinta. Mereka
menghadirkan cinta sebagi puncak kondisi luar biasa realitas alamiah dan
sebagai komplemen dari keberadaan manusiawi. Inilah perbedaan prinsip antara
manusia dan benda-benda, serta binatang.
Dalam pandangan penulis pembicaraan mengenai cinta kini
telah kering di kalangan akademisi. Mereka memandang persoalan cinta bukanlah
persoalan ilmiah yang harus dikaji sebagaimana ilmu-ilmu lainnya sehingga
setiap kali berbicara mengenai cinta berarti berbicara hanya mengenai seks
semata. Padahal karena tidak ada cinta, agama dan nilai-nilai tidak masuk dalam
kamus kehidupan, para politikus berani mengumbar kata-kata dengan membohongi
segenap massa yang telah mempercayainya. Bagi mereka kekuasaan adalah
segala-galanya. Karena tidak ada cinta pula kejahatan pun merajalela untuk
memenuhi nafsu dan ambisi semata. Akhirnya manusia menjadi srigala atas manusia
lainnya.
Belum lagi konflik yang terjadi di bumi Indonesia ini.
Cinta dipersempit hanya mencintai kelompok atau golongannya saja. Orang yang
berbeda dianggapnya sebagai musuh yang harus disingkirkan, atau kalau perlu
dienyahkan. Ironisnya, ini pun terjadi di kalangan agamawan yang telah jelas
mereka tahu betul dalam kitab suci diajarkan untuk mencintai sesama.
Dalam tinjauan Filsafat Erich Fromm, manusia modern kini
telah kehilangan rasa cinta. Terkadang apa yang nampak sebagai suatu kemurahan
hati sering sebenarnya tiada lain daripada ambisi yang terselubung, yang
mengabaikan kepentingan-kepentingan kecil untuk mengejar kepentingan-kepentingan
yang lebih besar. Itu tidak lain karena sekali lagi cinta manusia modern itu
telah hilang. Hubungan antar manusia kini menjadi semu karena setiap orang
menjadi barang komoditas bagi yang lainnya. Tidak ada cinta maupun benci dalam
jalinan hubungan manusia zaman sekarang. Keakraban menjadihambar,
ketulusan hati menjadi hal yang direkayasa. Individu digerakkan oleh
kepentingan egoistis dan bukan oleh cinta yang bersemi di hati manusia. Bila
halnya demikian, manusia modern merasa terasing (teralienasi) terhadap alam,
sesamanya bahkan asing terhadap dirinya sendiri.
Erich Fromm mengartikan alienasi sebagai pengalaman hidup
seseorang yang merasakan dirinya sebagai sosok terasing. Boleh dikata ia tidak
mengalami dirinya sendiri, dan tidak mengalami dirinya sebagai subjek dari
dunia dan aktivitas sendiri. tetapi justru manusia menjadi budak dari semua
hasil kegiatannya. Manusia modern pun kemudian menjadi terasing.
Keterasingan manusia modern menurut Fromm telah terjadi
secara total dalam kehidupannya yang meliputi manusia dengan pekerjaannya,
dengan benda-benda yang mereka konsumsi, dengan negara, dengan sesama manusia,
dan bahkan dengan dirinya sendiri. Manusia telah mengkonstruksikan mesin sosial
yang rumit untuk menjalankan mesin teknis yang ia bangun. Namun semua
ciptaannya itu akhirnya melampaui dirinya sendiri. Maka manusia kemudian tidak
mengalami dirinya sebagai pusat dari apa yang telah diciptakannya. Semakin
manusia menciptakan peralatan canggih, semakin manusia tidak berdaya sebagai
manusia.
Di balik itu semua, masyarakat modern akhirnya kehilangan
nilai-nilai kemanusiaannya. Mereka beraktivitas dan bekerja hanya berdasarkan
angka-angka mekanis. Kondisi seperti ini mengakibatkan manusia-manusia modern
menjadi pribadi-pribadi yang kesepian. Hubungan yang terjadi antar sesama
manusia adalah hubungan yang berkepentingan. Tampak jelaslah bahwa sesungguhnya
orang tidak lagi saling menghargai tetapi hanya saling mempergunakan. Orang
lain dipandang “benda” atau alat untuk memenuhi kebutuhan egoistisnya. Demikian
juga dalam hal hubungan laki-laki dan perempuan. Tentu kondisi tersebut tidak
bisa dibiarkan berlarut-larut. Artinya harus segera dicarikan solusinya guna
mengembalikan wibawa manusia sebagai manusia, dan bukan sebagai binatang yang
berwujud manusia.
Untuk mengatasi rasa keterasingan manusia itu, Fromm
menawarkan solusianya dengan cinta. Persoalan cinta tidak melulu sexual
oriented, sehingga ia tidak bisa dianggap persoalan sepele. Cinta adalah
kesatuan dengan sesuatu atau seseorang di luar dirinya. Hal ini menjadikan
terjadinya kebersamaan, kerukunan, yang memungkinkan perkembangan sepenuhnya
aktivitas batin seseorang. Karena realitas kebersamaan itulah cinta mampu
mengatasi eksistensi individual yang terasing dan kemudian menjadi produktif.
Teori Cinta Erich Fromm
Cinta dalam bahasa Latin mempunyai istilah amor dan caritas. Dalam
istilah Yunani disebut philia, eros dan agape.
Philia mempunyai konotasi cinta yang terdapat dalam persahabatan
(dalam bahasa Cina sinonimnya jen). Amor dan eros adalah jenis
cinta berdasarkan keinginan. Caritas dan agape merupakan
tipe cinta yang lebih tinggi dan tidak mementingkan diri sendiri.
Cinta adalah reaksi yang dipelajari dan emosional. Cinta
merupakan tanggapan terhadap kelompok rangsangan dan perilaku yang dipelajari.
Cinta adalah interaksi dinamis dihayati dalam setiap kehidupan kita. Maka cinta
ada dimana-mana dan kapan saja.
Erich Fromm menjelaskan bahwa cinta adalah suatu kegiatan
yang aktif. Karena itu cinta memiliki kebebasan untuk menentukan dirinya dan
mencintai adalah memberikan kebebasan demi pertumbuhan yang dicintai. Dengan
demikian cinta bukanlah suatu pengaruh pasif. Cinta adalah Standing in (tetap
tegak di dalam) bukan Falling for (Jatuh untuk).
Jika cinta adalah suatu
kegiatan, berarti ia bukanlah benda melainkan lebih pada kerja, aktivitas,
orientasi. Cinta bukanlah komoditas barang yang dapat dibarter dan
diperjualbelikan apalagi dipaksakan oleh orang lain, karena ia tidak bisa
terwujud dengan paksaan. Cinta adalah pilihan bebas yang diberikan secara suka
rela atas kemauan sendiri dan rasional. Jika sesorang ingin membagi cintanya
kepada orang lain, ia bebas memberikannya. Begitu juga sebaliknya, jika ada
keinginan untuk tidak memberikan cintanya kepada orang lain, itu juga
memberikan kebebasan baginya. Oleh karena itu, dalam cinta dituntut kedewasaan
dalam berpikir, serta kesadaran dalam memilih.
Ekspresi tipikal cinta tidaklah mendominasi atau
memiliki. Ekspresi ini, sebaliknya adalah pemberian secara mutual, yakni
menerima dan memberi. Karena itu, menurut Marcel, cinta kita rasakan terhadap
makhluk ini sama dengan keyakinan yang kita rasakan terhadap Tuhan.
Aktivitas yang paling jelas dalam kegiatan cinta dan
mencintai adalah memberi. Menurut Fromm, selama ini ada kesalahan luar biasa
dalam tindakan “memberi”. Memberi sering disamakan dengan “memberikan” sesuatu
atau mengorbankan sesuatu. Bagi pribadi-pribadi yang perkembangan
karakternya berhenti pada tahap orientasi reseptif, eksploitatif atau menimbun,
tindakan “memberi” memang dimaknai dalam pengertian ini. Orang yang berkarakter
pasar hanya akan memberi jika dia mendapat untung. Orang yang mengidap
orientasi non-produktif akan merasa tindakan memberinya sebagai bentuk
pemiskinan. Sementara orang yang berkarakter produktif, tindakan memberinya
dimaknai sebagai bentuk ekspresi tertinggi dari potensi yang ada dalam diri
mereka. Bagi mereka memberi adalah potensi dan vitalitas manusia yang
menghasilkan kegembiraan luar biasa daripada menerima. Karena itulah mereka
percaya dengan sebuah yang mengatakan “tangan di atas lebih baik daripada
tangan yang di bawah”.
Memberi di sini menurut
Fromm bukanlah sekedar memberi materi, tetapi diri, kehadiranku, lebih jauh
dari itu eksistensiku, semangat hidup dan perasaan bersama. Tegasnya tindakan
memberi bukan terletak dalam persoalan materi, tetapi terletak dalam kenyataan diri
manusia (human realism) itu sendiri. Gambaran jelas tentang ini menurut
Fromm terdapat dalam aktivitas seksual suami-istri dan cinta seorang ibu
terhadap anaknya. Ibu memberikan dirinya demi pertumbuhan anak yang
dikandungnya, memberikan susu untuk bayinya serta memberikan kehangatan.
Mengelak dari tindakan memberi hanya mendatangkan rasa sakit dalam dirinya.
Lalu apa saja yang mampu diberikan kepada orang lain?
Manusia memberikan dirinya, memberikan sesuatu yang paling berharga yang dia
miliki, yaitu kehidupannya. Kehidupan yang dimaksud Fromm bukan soal
pengorbanan demi orang lain. Berikut kutipan panjang dari tulisannya:
“yang terpenting dalam hal ini bukan soal bahwa dia
telah mengorbankan hidupnya demi orang lain melainkan bahwa dia telah
memberikan apa yang hidup dalam dirinya; dia memberikan kegembiraannya,
kepentingannya, pemahamannya, pengetahuannya, kejenakaannya, kesedihannya-semua
ekspresi serta manifestasi yang ada dalam dirinya. Dengan tindakan tersebut
sesorang telah memperkaya orang lain, meningkatkan perasaan hidup orang lain
lewat peningkatan perasaan hidupnya sendiri…..(Erich Fromm, The Art Of
Loving, hal.41)
Fromm mengkritik orang-orang modern yang memandang cinta
dalam visi keindahan dan kenikmatannya saja tanpa melihat cinta sebagai bagian
esensial dari seni hidup. Bahkan cinta adalah seni hidup itu sendiri dan
merupakan pandangan terhadap manusia yang lebih utuh.
Fromm mengemukakan tiga kekeliruan orang-orang modern
dalam memahami cinta.Pertama, persoalan cinta hanya dilihat sebagai persoalan
“dicintai” ketimbang “mencintai”. Oleh karena itu, persoalan terpenting bagi
kebanyakan orang adalah bagaimana agar dicintai, atau bagaimana agar bisa
dicintai. Karena masalahnya adalah bagaimana agar dicintai (to be loved),
maka orang-orang berusaha bagaimana ‘menciptakan’ dirinya semenarik mungkin
bagi lawan jenisnya. Tentunya hal ini disesuaikan dengan selera zaman
atau trend yang berkembang daam kehidupan sosial.
Kedua,
persoalan cinta adalah persoalan objek bukan persoalan kemampuan. Orang berpikir
bahwa mencintai adalah persoalan mudah, yang sulit adalah bagaimana mencari
sasaran (objek) yang tepat. Namun persoalan objek cinta pun selalu mengalami
perubahan dari masa ke masa. Fromm mencontohkan, bagi laki-laki zaman sekarang,
gadis yang menarik tak ubahnya bingkisan yang selalu mereka inginkan.
Sebaliknya bagi perempuan, lelaki yang menarik adalah hadiah yang selalu mereka
dambakan. Arti “menarik” di sini tak lain adalah adanya kesesuaian dengan model
karakter yang dicari-cari di pasar kepribadian.
Di Amerika tahun 1920-an, seorang gadis peminum dan
perokok, ulet serta sexy akan dipandang sebagai sosok yang
menarik. Namun pada zaman sekarang, sifat-sifat seperti senang tinggal di rumah
serta pemalu justru akan dianggap anggun dan mengesankan pada saat ini. Begitu
juga dengan laki-laki, pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, untuk dapat
dikatakan sebagai “bingkisan” menarik, seorang laki-laki mesti memiliki
karakter agresif dan ambisius. Namun sekarang laki-laki yang menarik adalah
mereka yang berwatak sosial dan toleran.
Perasaan jatuh cinta biasanya berkembang karena adanya
komoditas-komoditas yang dapat dipertukarkan. Sang “aku” selalu berada luar
penawaran; karena segala sesuatu dihargai berdasarkan nilai sosialnya.
Seseorang diinginkan karena ia juga menginginkan, dengan mempertimbangkan
segala asset dan potensi yang dimiliki oleh masing-masing, baik yang tampak
maupun yang tersembunyi. Dua sosok manusia akan jatuh cinta jika telah
menemukan objek terbaik mereka di pasaran, dengan mengingat batas-batas nilai
tukar yang dimiliki.
Ketiga, sebagai implikasi dari
kekeliruan tersebut, bahwa pengakuan cinta merupakan pengakuan jatuh cinta (falling
in love) bukan pengalaman meng-ada dalam cinta (being in love) atau
berdiri dalam cinta (standing in love). Pengalaman jatuh adalah
pengalaman objektivikasi, bagaimana jatuh senantiasa berimplikasi kepemilikan
terhadap orang lain.
Bias-bias ini menurut Fromm merupakan akibat dari
pandangan dunia yang begitu kuat dipengaruhi oleh nilai-nilai materialis dalam
dunia kapitalis.
Tipe-tipe Cinta
Erich Fromm mengungkapkan bahwa cinta merupakan sikap
yang berorientasi pada watak dan hubungan pribadi dengan dunia secara
keseluruhan, tanpa dibatasi oleh objek cinta. Meskipun demikian masih menurut
Fromm, cinta memliki perbedaan tipe yang tergantung pada objek yang dicintai.
Fromm kemudian mengklasifikasikan dalam lima tipe. Pertama, Cinta
persaudaraan (Brotherly Love). Cinta ini cinta terhadap semua manusia
yang didasarkan pada pengalaman bahwa kita adalah satu. Perbedaan dalam warna
kulit, bakat, intelegensia atau pengetahuan dapat diabaikan bila kita berpikir
tentang identitas inti umat manusia. Jenis cinta ini yang paling fundamental
dari semua tipe cinta.
Lebih jauh Fromm
menjelaskan bahwa mencintai sedarah bukanlah sebuah prestasi, karena binatang pun
mencintai darah dagingnya; merawat anak-anaknya. Orang miskin mencintai orang
kaya karena hidupnya memang bergantung kepadanya. Hanya cinta yang tidak
‘berkepentinganlah’ yang akan menjadi cinta yang sesungguhnya. Ia mencontohkan
seperti mencintai orang-orang miskin, orang asing, yatim piatu, musuh dan
lain-lain.
Kedua, cinta keibuan. Cinta ibu
terhadap anak yang sedang tumbuh, cinta yang tidak menginginkan apa-apa untuk
dirinya sendiri, ini barangkali yang sulit dicapai. Tetapi justru karena
kesulitan inilah cintanya menjadi awet. Cinta ibu menurut Fromm dianggap sebagai
jenis tertinggi dan ikatan emosional yang paling luhur. Uniknya
bagi Fromm, bila cinta yang lain menginginkan penyatuan tetapi dalam jenis
cinta keibuan ini, seorang ibu mencintai anaknya justru untuk berpisah dari
ketergantungan dirinya di kemudian hari.
Ketiga, cinta
erotis. Cinta erotis adalah cinta yang mendambakan peleburan dan penyatuan diri
dengan orang lain. Fromm memang mengakui hubungan seksual merupakan aktualisasi dari
rasa cinta dalam jenis cinta erotis ini, tetapi cinta yang ditekankan adalah
cinta produktif yang mengandung unsur-unsur perhatian, tanggung jawab,
penghormatan dan pengertian.
Keempat, Cinta diri sendiri (self
love). Cinta diri sendiri bersifat egosentris. Satu orientasi psikologis
yang menyangkut diri sendiri, sehingga merasakan keasyikan terhadap diri
sendiri. Cinta diri selama tidak mengganggu cinta yang lain merupakan
aktualisasi positif. Namun apabila ia memasuki wilayah egoisme yang cenderung
berkelakuan menguntungkan diri sendiri, atau narsisme maka cinta ini berbalik
negatif. Bagi Fromm, mencintai diri sendiri berarti mengaktualisasikan dan
mengkonsentrasikan kekuatan dirinya untuk mencintai orang lain. Bila halnya
demikian ia menjadi seorang yang produktif.
Kelima, cinta kepada Tuhan.
Dalam semua agama teistis, baik yang polities mapun monoteis, Tuhan adalah
realitas tertinggi yang paling didambakan. Arti spesifik Tuhan tergantung apa
yang paling didambakan oleh seseorang. Cinta jenis ini sama dengan cinta kepada
orang tua. Cinta kepada Allah berawal dari keterikatan yang tak berdaya
kepada-Nya yang keibuan (matrilineal), lalu keterikatan dan ketaatan
kepada-Nya yang kebapakan (patrilineal), sampai suatu saat sang pribadi
memasukkan prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan dalam diri, sehingga menjadi
satu dengan-Nya, dan akhirnya sampai pada titik dimana ia mentransfer kualitas
ilahi pada dirinya.
Tipe-tipe cinta
Ibn Miskawayh membagi tipe cinta dalam empat kategori: Pertama,
cinta kenikmatan, yaitu cita yang terjalin dengan cepat dan pupusnya juga
cepat. Cinta seperti ini cinta sang pendengar nyanyian atau penonton
film. Kedua, cinta kebaikan, yaitu cinta yang terjalin dengan
cepat, tetapi pupusnya lambat. Cinta seperti ini cinta sepasang kekasih dalam
mahligai rumah tangga, karena keduanya menginginkan kebaikan. Ketiga,
cinta manfaat, yaitu cinta yang terjalin dengan lambat, tetapi pupusnya cepat.
Cinta seperti ini cinta artis ketika mengalunkan nyanyian pada
pendengarnya. Keempat, cinta perpaduan antara kenikmatan, kebaikan
dan manfaat, yaitu yang terjalin dengan lambat dan pupusnya juga lambat.
Penutup
Krisis filosofi cinta terjadi pada diri, keluarga dan
lingkungan kita. Hubungan kita kadang tidak didasarkan atas nama cinta tetapi
hubungan yang berkepentingan. Hubungan yang berlandaskan pada kalkulasi untung
rugi dan seterusnya. Sehingga cinta terasa kering.
Tentunya, kini sudah saatnya benih-benih cinta mulai
ditanam kembali di kebun rasionalitas penghuni negeri. Kemudian benih-benih
cinta itu disiram dan dirawat hingga menjadi tanaman yang indah dan menawan,
aroma wewangian bertebaran merasuk ke dalam ubun-ubun kepala. Hingga suatu saat
cinta menjadi tiang pancang peradaban manusia di bumi ini. Semoga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar