Social Icons

galery

Jumat, 25 Oktober 2013

CINTA DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT



            Para filosof mengidentitaskan cinta dengan keberadaan manusia. Dengan cinta manusia dapat menghayati dirinya sebagai pengemban aktif dunia aktivitasnya. Eksistensialis agamis yang beriman kepada Tuhan dan Filosof yang berpengaruh Hiedegger, menyatukan keberadaan real dengan cinta. Mereka menghadirkan cinta sebagi puncak kondisi luar biasa realitas alamiah dan sebagai komplemen dari keberadaan manusiawi. Inilah perbedaan prinsip antara manusia dan benda-benda, serta binatang.


            Dalam pandangan penulis pembicaraan mengenai cinta kini telah kering di kalangan akademisi. Mereka memandang persoalan cinta bukanlah persoalan ilmiah yang harus dikaji sebagaimana ilmu-ilmu lainnya sehingga setiap kali berbicara mengenai cinta berarti berbicara hanya mengenai seks semata. Padahal karena tidak ada cinta, agama dan nilai-nilai tidak masuk dalam kamus kehidupan, para politikus berani mengumbar kata-kata dengan membohongi segenap massa yang telah mempercayainya. Bagi mereka kekuasaan adalah segala-galanya. Karena tidak ada cinta pula kejahatan pun merajalela untuk memenuhi nafsu dan ambisi semata. Akhirnya manusia menjadi srigala atas manusia lainnya.
            Belum lagi konflik yang terjadi di bumi Indonesia ini. Cinta dipersempit hanya mencintai kelompok atau golongannya saja. Orang yang berbeda dianggapnya sebagai musuh yang harus disingkirkan, atau kalau perlu dienyahkan. Ironisnya, ini pun terjadi di kalangan agamawan yang telah jelas mereka tahu betul dalam kitab suci diajarkan untuk mencintai sesama.
            Dalam tinjauan Filsafat Erich Fromm, manusia modern kini telah kehilangan rasa cinta. Terkadang apa yang nampak sebagai suatu kemurahan hati sering sebenarnya tiada lain daripada ambisi yang terselubung, yang mengabaikan kepentingan-kepentingan kecil untuk mengejar kepentingan-kepentingan yang lebih besar. Itu tidak lain karena sekali lagi cinta manusia modern itu telah hilang. Hubungan antar manusia kini menjadi semu karena setiap orang menjadi barang komoditas bagi yang lainnya. Tidak ada cinta maupun benci dalam jalinan hubungan manusia zaman sekarang. Keakraban menjadihambar, ketulusan hati menjadi hal yang direkayasa. Individu digerakkan oleh kepentingan egoistis dan bukan oleh cinta yang bersemi di hati manusia. Bila halnya demikian, manusia modern merasa terasing (teralienasi) terhadap alam, sesamanya bahkan asing terhadap dirinya sendiri.
            Erich Fromm mengartikan alienasi sebagai pengalaman hidup seseorang yang merasakan dirinya sebagai sosok terasing. Boleh dikata ia tidak mengalami dirinya sendiri, dan tidak mengalami dirinya sebagai subjek dari dunia dan aktivitas sendiri. tetapi justru manusia menjadi budak dari semua hasil kegiatannya. Manusia modern pun kemudian menjadi terasing.
            Keterasingan manusia modern menurut Fromm telah terjadi secara total dalam kehidupannya yang meliputi manusia dengan pekerjaannya, dengan benda-benda yang mereka konsumsi, dengan negara, dengan sesama manusia, dan bahkan dengan dirinya sendiri. Manusia telah mengkonstruksikan mesin sosial yang rumit untuk menjalankan mesin teknis yang ia bangun. Namun semua ciptaannya itu akhirnya melampaui dirinya sendiri. Maka manusia kemudian tidak mengalami dirinya sebagai pusat dari apa yang telah diciptakannya. Semakin manusia menciptakan peralatan canggih, semakin manusia tidak berdaya sebagai manusia.
            Di balik itu semua, masyarakat modern akhirnya kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya. Mereka beraktivitas dan bekerja hanya berdasarkan angka-angka mekanis. Kondisi seperti ini mengakibatkan manusia-manusia modern menjadi pribadi-pribadi yang kesepian. Hubungan yang terjadi antar sesama manusia adalah hubungan yang berkepentingan. Tampak jelaslah bahwa sesungguhnya orang tidak lagi saling menghargai tetapi hanya saling mempergunakan. Orang lain dipandang “benda” atau alat untuk memenuhi kebutuhan egoistisnya. Demikian juga dalam hal hubungan laki-laki dan perempuan. Tentu kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Artinya harus segera dicarikan solusinya guna mengembalikan wibawa manusia sebagai manusia, dan bukan sebagai binatang yang berwujud manusia.
            Untuk mengatasi rasa keterasingan manusia itu, Fromm menawarkan solusianya dengan cinta. Persoalan cinta tidak melulu sexual oriented, sehingga ia tidak bisa dianggap persoalan sepele. Cinta adalah kesatuan dengan sesuatu atau seseorang di luar dirinya. Hal ini menjadikan terjadinya kebersamaan, kerukunan, yang memungkinkan perkembangan sepenuhnya aktivitas batin seseorang. Karena realitas kebersamaan itulah cinta mampu mengatasi eksistensi individual yang terasing dan kemudian menjadi produktif.
           
Teori Cinta Erich Fromm
            Cinta dalam bahasa Latin mempunyai istilah amor dan caritas. Dalam istilah Yunani disebut philia, eros dan agape. Philia mempunyai konotasi cinta yang terdapat dalam persahabatan (dalam bahasa Cina sinonimnya jen). Amor dan eros adalah jenis cinta berdasarkan keinginan. Caritas dan agape merupakan tipe cinta yang lebih tinggi dan tidak mementingkan diri sendiri.
            Cinta adalah reaksi yang dipelajari dan emosional. Cinta merupakan tanggapan terhadap kelompok rangsangan dan perilaku yang dipelajari. Cinta adalah interaksi dinamis dihayati dalam setiap kehidupan kita. Maka cinta ada dimana-mana dan kapan saja.
            Erich Fromm menjelaskan bahwa cinta adalah suatu kegiatan yang aktif. Karena itu cinta memiliki kebebasan untuk menentukan dirinya dan mencintai adalah memberikan kebebasan demi pertumbuhan yang dicintai. Dengan demikian cinta bukanlah suatu pengaruh pasif. Cinta adalah Standing in (tetap tegak di dalam) bukan Falling for (Jatuh untuk).
Jika cinta adalah suatu kegiatan, berarti ia bukanlah benda melainkan lebih pada kerja, aktivitas, orientasi. Cinta bukanlah komoditas barang yang dapat dibarter dan diperjualbelikan apalagi dipaksakan oleh orang lain, karena ia tidak bisa terwujud dengan paksaan. Cinta adalah pilihan bebas yang diberikan secara suka rela atas kemauan sendiri dan rasional. Jika sesorang ingin membagi cintanya kepada orang lain, ia bebas memberikannya. Begitu juga sebaliknya, jika ada keinginan untuk tidak memberikan cintanya kepada orang lain, itu juga memberikan kebebasan baginya. Oleh karena itu, dalam cinta dituntut kedewasaan dalam berpikir, serta kesadaran dalam memilih.
            Ekspresi tipikal cinta tidaklah mendominasi atau memiliki. Ekspresi ini, sebaliknya adalah pemberian secara mutual, yakni menerima dan memberi. Karena itu, menurut Marcel, cinta kita rasakan terhadap makhluk ini sama dengan keyakinan yang kita rasakan terhadap Tuhan.
            Aktivitas yang paling jelas dalam kegiatan cinta dan mencintai adalah memberi. Menurut Fromm, selama ini ada kesalahan luar biasa dalam tindakan “memberi”. Memberi sering disamakan dengan “memberikan” sesuatu atau mengorbankan sesuatu. Bagi pribadi-pribadi yang perkembangan karakternya berhenti pada tahap orientasi reseptif, eksploitatif atau menimbun, tindakan “memberi” memang dimaknai dalam pengertian ini. Orang yang berkarakter pasar hanya akan memberi jika dia mendapat untung. Orang yang mengidap orientasi non-produktif akan merasa tindakan memberinya sebagai bentuk pemiskinan. Sementara orang yang berkarakter produktif, tindakan memberinya dimaknai sebagai bentuk ekspresi tertinggi dari potensi yang ada dalam diri mereka. Bagi mereka memberi adalah potensi dan vitalitas manusia yang menghasilkan kegembiraan luar biasa daripada menerima. Karena itulah mereka percaya dengan sebuah yang mengatakan “tangan di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah”.
Memberi di sini menurut Fromm bukanlah sekedar memberi materi, tetapi diri, kehadiranku, lebih jauh dari itu eksistensiku, semangat hidup dan perasaan bersama. Tegasnya tindakan memberi bukan terletak dalam persoalan materi, tetapi terletak dalam kenyataan diri manusia (human realism) itu sendiri. Gambaran jelas tentang ini menurut Fromm terdapat dalam aktivitas seksual suami-istri dan cinta seorang ibu terhadap anaknya. Ibu memberikan dirinya demi pertumbuhan anak yang dikandungnya, memberikan susu untuk bayinya serta memberikan kehangatan. Mengelak dari tindakan memberi hanya mendatangkan rasa sakit dalam dirinya.
            Lalu apa saja yang mampu diberikan kepada orang lain? Manusia memberikan dirinya, memberikan sesuatu yang paling berharga yang dia miliki, yaitu kehidupannya. Kehidupan yang dimaksud Fromm bukan soal pengorbanan demi orang lain. Berikut kutipan panjang dari tulisannya:
“yang terpenting dalam hal ini bukan soal bahwa dia telah mengorbankan hidupnya demi orang lain melainkan bahwa dia telah memberikan apa yang hidup dalam dirinya; dia memberikan kegembiraannya, kepentingannya, pemahamannya, pengetahuannya, kejenakaannya, kesedihannya-semua ekspresi serta manifestasi yang ada dalam dirinya. Dengan tindakan tersebut sesorang telah memperkaya orang lain, meningkatkan perasaan hidup orang lain lewat peningkatan perasaan hidupnya sendiri…..(Erich Fromm, The Art Of Loving, hal.41)
            Fromm mengkritik orang-orang modern yang memandang cinta dalam visi keindahan dan kenikmatannya saja tanpa melihat cinta sebagai bagian esensial dari seni hidup. Bahkan cinta adalah seni hidup itu sendiri dan merupakan pandangan terhadap manusia yang lebih utuh.
            Fromm mengemukakan tiga kekeliruan orang-orang modern dalam memahami cinta.Pertama, persoalan cinta hanya dilihat sebagai persoalan “dicintai” ketimbang “mencintai”. Oleh karena itu, persoalan terpenting bagi kebanyakan orang adalah bagaimana agar dicintai, atau bagaimana agar bisa dicintai. Karena masalahnya adalah bagaimana agar dicintai (to be loved), maka orang-orang berusaha bagaimana ‘menciptakan’ dirinya semenarik mungkin bagi lawan jenisnya. Tentunya hal ini disesuaikan dengan selera zaman atau trend yang berkembang daam kehidupan sosial.
Kedua, persoalan cinta adalah persoalan objek bukan persoalan kemampuan. Orang berpikir bahwa mencintai adalah persoalan mudah, yang sulit adalah bagaimana mencari sasaran (objek) yang tepat. Namun persoalan objek cinta pun selalu mengalami perubahan dari masa ke masa. Fromm mencontohkan, bagi laki-laki zaman sekarang, gadis yang menarik tak ubahnya bingkisan yang selalu mereka inginkan. Sebaliknya bagi perempuan, lelaki yang menarik adalah hadiah yang selalu mereka dambakan. Arti “menarik” di sini tak lain adalah adanya kesesuaian dengan model karakter yang dicari-cari di pasar kepribadian.
            Di Amerika tahun 1920-an, seorang gadis peminum dan perokok, ulet serta sexy akan dipandang sebagai sosok yang menarik. Namun pada zaman sekarang, sifat-sifat seperti senang tinggal di rumah serta pemalu justru akan dianggap anggun dan mengesankan pada saat ini. Begitu juga dengan laki-laki, pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, untuk dapat dikatakan sebagai “bingkisan” menarik, seorang laki-laki mesti memiliki karakter agresif dan ambisius. Namun sekarang laki-laki yang menarik adalah mereka yang berwatak sosial dan toleran.
            Perasaan jatuh cinta biasanya berkembang karena adanya komoditas-komoditas yang dapat dipertukarkan. Sang “aku” selalu berada luar penawaran; karena segala sesuatu dihargai berdasarkan nilai sosialnya. Seseorang diinginkan karena ia juga menginginkan, dengan mempertimbangkan segala asset dan potensi yang dimiliki oleh masing-masing, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Dua sosok manusia akan jatuh cinta jika telah menemukan objek terbaik mereka di pasaran, dengan mengingat batas-batas nilai tukar yang dimiliki.
            Ketiga, sebagai implikasi dari kekeliruan tersebut, bahwa pengakuan cinta merupakan pengakuan jatuh cinta (falling in love) bukan pengalaman meng-ada dalam cinta (being in love) atau berdiri dalam cinta (standing in love). Pengalaman jatuh adalah pengalaman objektivikasi, bagaimana jatuh senantiasa berimplikasi kepemilikan terhadap orang lain.
            Bias-bias ini menurut Fromm merupakan akibat dari pandangan dunia yang begitu kuat dipengaruhi oleh nilai-nilai materialis dalam dunia kapitalis.

Tipe-tipe Cinta
            Erich Fromm mengungkapkan bahwa cinta merupakan sikap yang berorientasi pada watak dan hubungan pribadi dengan dunia secara keseluruhan, tanpa dibatasi oleh objek cinta. Meskipun demikian masih menurut Fromm, cinta memliki perbedaan tipe yang tergantung pada objek yang dicintai.
            Fromm kemudian mengklasifikasikan dalam lima tipe. Pertama, Cinta persaudaraan (Brotherly Love). Cinta ini cinta terhadap semua manusia yang didasarkan pada pengalaman bahwa kita adalah satu. Perbedaan dalam warna kulit, bakat, intelegensia atau pengetahuan dapat diabaikan bila kita berpikir tentang identitas inti umat manusia. Jenis cinta ini yang paling fundamental dari semua tipe cinta.
Lebih jauh Fromm menjelaskan bahwa mencintai sedarah bukanlah sebuah prestasi, karena binatang pun mencintai darah dagingnya; merawat anak-anaknya. Orang miskin mencintai orang kaya karena hidupnya memang bergantung kepadanya. Hanya cinta yang tidak ‘berkepentinganlah’ yang akan menjadi cinta yang sesungguhnya. Ia mencontohkan seperti mencintai orang-orang miskin, orang asing, yatim piatu, musuh dan lain-lain.
            Kedua, cinta keibuan. Cinta ibu terhadap anak yang sedang tumbuh, cinta yang tidak menginginkan apa-apa untuk dirinya sendiri, ini barangkali yang sulit dicapai. Tetapi justru karena kesulitan inilah cintanya menjadi awet. Cinta ibu menurut Fromm dianggap sebagai jenis tertinggi dan ikatan emosional yang paling luhur. Uniknya bagi Fromm, bila cinta yang lain menginginkan penyatuan tetapi dalam jenis cinta keibuan ini, seorang ibu mencintai anaknya justru untuk berpisah dari ketergantungan dirinya di kemudian hari.
Ketiga, cinta erotis. Cinta erotis adalah cinta yang mendambakan peleburan dan penyatuan diri dengan orang lain. Fromm memang mengakui hubungan seksual merupakan aktualisasi dari rasa cinta dalam jenis cinta erotis ini, tetapi cinta yang ditekankan adalah cinta produktif yang mengandung unsur-unsur perhatian, tanggung jawab, penghormatan dan pengertian.
            Keempat, Cinta diri sendiri (self love). Cinta diri sendiri bersifat egosentris. Satu orientasi psikologis yang menyangkut diri sendiri, sehingga merasakan keasyikan terhadap diri sendiri. Cinta diri selama tidak mengganggu cinta yang lain merupakan aktualisasi positif. Namun apabila ia memasuki wilayah egoisme yang cenderung berkelakuan menguntungkan diri sendiri, atau narsisme maka cinta ini berbalik negatif. Bagi Fromm, mencintai diri sendiri berarti mengaktualisasikan dan mengkonsentrasikan kekuatan dirinya untuk mencintai orang lain. Bila halnya demikian ia menjadi seorang yang produktif.
            Kelima, cinta kepada Tuhan. Dalam semua agama teistis, baik yang polities mapun monoteis, Tuhan adalah realitas tertinggi yang paling didambakan. Arti spesifik Tuhan tergantung apa yang paling didambakan oleh seseorang. Cinta jenis ini sama dengan cinta kepada orang tua. Cinta kepada Allah berawal dari keterikatan yang tak berdaya kepada-Nya yang keibuan (matrilineal), lalu keterikatan dan ketaatan kepada-Nya yang kebapakan (patrilineal), sampai suatu saat sang pribadi memasukkan prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan dalam diri, sehingga menjadi satu dengan-Nya, dan akhirnya sampai pada titik dimana ia mentransfer kualitas ilahi pada dirinya.

Tipe-tipe cinta
        Ibn Miskawayh membagi tipe cinta dalam empat kategori: Pertama, cinta kenikmatan, yaitu cita yang terjalin dengan cepat dan pupusnya juga cepat. Cinta seperti ini cinta sang pendengar nyanyian atau penonton film. Kedua, cinta kebaikan, yaitu cinta yang terjalin dengan cepat, tetapi pupusnya lambat. Cinta seperti ini cinta sepasang kekasih dalam mahligai rumah tangga, karena keduanya menginginkan kebaikan. Ketiga, cinta manfaat, yaitu cinta yang terjalin dengan lambat, tetapi pupusnya cepat. Cinta seperti ini cinta artis ketika mengalunkan nyanyian pada pendengarnya. Keempat, cinta perpaduan antara kenikmatan, kebaikan dan manfaat, yaitu yang terjalin dengan lambat dan pupusnya juga lambat.

Penutup
            Krisis filosofi cinta terjadi pada diri, keluarga dan lingkungan kita. Hubungan kita kadang tidak didasarkan atas nama cinta tetapi hubungan yang berkepentingan. Hubungan yang berlandaskan pada kalkulasi untung rugi dan seterusnya. Sehingga cinta terasa kering.
            Tentunya, kini sudah saatnya benih-benih cinta mulai ditanam kembali di kebun rasionalitas penghuni negeri. Kemudian benih-benih cinta itu disiram dan dirawat hingga menjadi tanaman yang indah dan menawan, aroma wewangian bertebaran merasuk ke dalam ubun-ubun kepala. Hingga suatu saat cinta menjadi tiang pancang peradaban manusia di bumi ini. Semoga.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar