Social Icons

galery

Rabu, 13 November 2013

MAHA dari para SISWA

Terlenalah dalam nina bobo kenyamanan zaman,, dan biarkan “kami” pelan-pelan melemahkan kalian.

           
Mahasiswa terdiri dari dua buah kata Maha dan Siswa, peletakan kata Maha disini bukanlah hal yang bisa diangap sembarangan. Maha yang bisa diartikan sebagai besar, tinggi, tempat mengadu, pemberi harapan, dan label paling puncak untuk semua orang yang sedang terdidik. Sekarang ini pemberian kata Maha menjadi hal yang perlu dipertanyakan, mahasiswa saat ini cenderung tidak perduli dengan tanggung jawab dan peranannya. Seakan semua sudah lupa akan beban menyandang kata MAHA.

Jumat, 25 Oktober 2013

REVITALISASI SPIRIT KOLEKTIVISME BANGSA

            Dalam beberapa kesempatan, demokrasi yang kita nikmati memiliki 2 mata pisau. Satu sisi mengagungkan otoritas individu secara penuh, namun disisi lain selalu ada korban dari demokrasi. Demokrasi, kata Teuku Jacob tak ada artinya kalau rakyat tidak cerdas. Pembodohan berkedok demokrasi terjadi.

CINTA DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT



            Para filosof mengidentitaskan cinta dengan keberadaan manusia. Dengan cinta manusia dapat menghayati dirinya sebagai pengemban aktif dunia aktivitasnya. Eksistensialis agamis yang beriman kepada Tuhan dan Filosof yang berpengaruh Hiedegger, menyatukan keberadaan real dengan cinta. Mereka menghadirkan cinta sebagi puncak kondisi luar biasa realitas alamiah dan sebagai komplemen dari keberadaan manusiawi. Inilah perbedaan prinsip antara manusia dan benda-benda, serta binatang.

Minggu, 06 Oktober 2013

Pergeseran Makna Nasionalime Indonesia

Ketika negara yang bernama Indonesia akhirnya terwujud pada tanggal 17 Agustus 1945, dengan penghuninya yang disebut bangsa Indonesia, persoalan ternyata belum selesai. Bangsa Indonesia masih harus berjuang dalam perang kemerdekaan antara tahun 1945-1949, tatkala penjajah menginginkan kembali jajahannya. Nasionalisme kita saat itu betul-betul diuji di tengah gejolak politik dan politik divide et impera Belanda. Setelah pengakuan kedaulatan tahun 1949, nasionalisme bangsa masih terus diuji dengan munculnya gerakan separatis di berbagai wilayah tanah air hingga akhirnya pada masa Demokrasi Terpimpin masalah nasionalisme diambil alih oleh negara. Nasionalisme politik pun digeser kembali ke nasionalisme politik sekaligus kultural. Dan, berakhir pula situasi ini dengan terjadinya tragedi nasional 1 Oktober 1965 (GESTOK).